Banyak yang menganggap kekurangan phisik adalah bencana. Ada juga yang menganggap sebagai kelemahan diri. Lebih ekstrim lagi, menjadikannya kebo ijo (kambing hitam sudah punah) untuk membesarkan hati karena tidak kunjung mengukir prestasi. Berkarya, apalagi.
Lain halnya dengan manusia jenis yang satu ini, Raditya Dika. Posturnya pendek ‘kuntet’ justeru menimbulkan daya tarik tersendiri. Meskipun, tidak Cuma sekali dua menjadikannya gagal dalam membina cinta. Disisi lain, kelakuan tengil dan penderitaan yang ditulis dengan gaya ceria, menjadikannya buku humor luar biasa laris.
Satu lagi, karakter usil (kreatif) dibuktikan lewat buku “babi ngesot – datang tak diundang, pulang tak berkutang” telah menembus cetakan keempat bulan juni lalu. Bahkan, dalam satu bulan ‘mei’ telah mengalami dua kali cetak!
“dia lalu menarik baju gue,…., panik habis. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Sayang, epilepsy gue gak bisa dikeluarkan kapanpun gue mau” gaya penulisan yang ‘radit banget’ menghiasi seluruh isi buku ini.
Simak pula cara ia menyapa pembaca “kamu yang disana, selamatkanlah aku, wahai… si buta dari gua hantu”. Asal! (temukan dihalaman 13). Memang, komunikatif sih.
Ada juga pelajaran moral disodorkan (halaman 16), “jika kamu dikerjain senior, kamu tidak perlu lari lebih cepat dari dia. Hanya, lebih cepat dari teman kamu”. Ini, diceritakan Radit saat ospec masa SMA. Buntutnya, dari tiga makhluk unik, satu diantaranya menjadi korban karena ditinggal kabur. Bahaya memang, tradisi cari selamat dengan mengorbankan teman tak luput disodorkan dalam buku ini. Bukan merupakan kekurangan sih, hanya saja rawan jika nantinya menjadi trend pembacanya.
Mengenai kelebihan, urat ketawa bakal terbetot habis saat membaca. Fresh seketika. Tagihan telpon, rekening listrik, cicilan kartu kredit, lupa begitu pegang buku ini.
Tak jarang, dalam angkutan umum seorang pembaca tiba-tiba tertawa ngakak tanpa tahu sebabnya. Penumpang lain pun kaget, ada beberapa yang menempelkan jari telunjuk miring di jidat. Sinting!
Apa yang dikatakan Radit saat menang main Nintendo dengan adik kembarnya? “ayo, cepat hara kiri pakai pensil, biar terhormat!”. Langsung anak kelas tiga SD itu berdiri tegak, ambil posisi baris berbaris dan “hadap kiri grak!”. Saat sampai halaman inilah seorang pembaca kontan menangkupkan buku menutupi wajah. Bahu berguncang, menahan geli. Agaknya malu ketahuan sesama penunggu kereta, ketawa sendirian.
Setengah mati, nahan ketawa baca “babi ngesot”, buku keempat Radit setelah kambing jantan, cinta brontosaurus dan radikus makankakus. Dari mulai gigit bibir (tak sampai berdarah loh), gemeletuk gigi, tahan nafas, sampai pura-pura bersiul. Gagal total! Jangan heran kalau airmata mendadak tumpah –saking geli-, atau juga perut jengah tertawa dari mulai lembar pertama sampai sampul belakang.
Untuk yang lagi dikejar-kejar debt-collector, luangkan sejenak baca buku ini. Bagi yang nunggak cicilan rumah, apalagi. Wajib. Lupakan dengan mengumbar urat ketawa segedhe-gedhenya. Tapi, kalau sampai ada yang sakit perut –bengkeh- tanggung sendiri!
Oh iya, komiknya ada juga beberapa lembar. Disisipi dalam beberapa bab sesuai tema. Lihat gambarnya saja (hal 29 – saat Radit diinjek-injek adiknya) sudah ketawa, apalagi baca. “berat badan Ingga seberat sapi Australia hamil”, demikian tulisannya. Inilah kelebihan lain dari buku humor ini. Tunggu apalagi, segera usir stress anda. Jangan tunggu menggunung, bisa depresi nantinya. Cari babi ngesot di toko buku terdekat! Atau, nunggu ketawa harus bayar pajak?
Judul buku : babi ngesot – datang tak diundang pulang tak berkutang
Penulis : Raditya Dika
Tebal : 237 halaman ( sekali duduk, kelar baca)
Harga : Rp. 32.000,- (tergantung belinya dimana)
Penerbit : bukune, jakarta
Jumat, 22 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar