sengaja dipost double, gue suka banget!
duhai istriku,
engkaulah jenis makhluk paling agung
penghormatan untukmu tiga kali daripadaku
hanya darimu-lah, kelak lahir pemimpin dunia
bukan dari aku
aku memang bisa saja mewariskan
sifat, semangat, dan budi(pekerti)ku
tetap saja,
hanya engkau dapat menyediakan
rahim untuk tumbuhnya jasad mungil itu
dan, dari jasad itu kelak
aku mengabadikan diri
melalui buaianmu terhadap anakku, tentu saja.
rasulullah, juga lahir dari rahim seorang wanita mulia.
*)"wanita-lah yang telah mempersembahkan orang-orang besar di dunia ini"
pesanku, jagalah sholatmu, maka, allah akan menjagamu
jangan kau hancurkan keagunganmu dengan
engkau hinakan dirimu sendiri melalui perbuatanmu
coretan diatas kereta express (pagi) bekasi-kota (17/04)
*)inspirasi dari Aidh Al Qarni
Diposkan oleh catatan salwangga di 12:39
Label: puisi romantis
4 komentar:
Anonim mengatakan...
Assalamualaikum...
Wah mas Salwangga bagus sekali syairnya sangat indah kata²nya dan sangat dalam artinya...
sampai terharu saya membacanya....
Wassalam,
2009 April 17 16:10
catatan salwangga mengatakan...
wa'alaikum salam
makasih atas apresiasinya. aku juga jadi banyak merenung atas apa yang aku tuliskan ini. sama-sama belajarlah. dengan ngertiin orang lain, dimulai dari orang terdekat dulu, sama aja berjuang untuk ngertiin diri sendiri. he..he..he.he..
puisi ini sengaja saya tulis, saya tempel ditembok. pernah, hari minggu (kelar nyuci, masih keringetan) saya baca keras-keras sambil gaya kayak deklamasi gitu. anakku nimas ketawa ngakak. rangga ikut-ikutan niruin sambil cedal. klo ibunya sich cengar cengir doang.
"bapak-anak sama aja. sama-sama kumatnya" katanya. sambil tersipu sih.
2009 April 17 16:12
Anonim mengatakan...
Sal, bagus banget tulisannya, aku suka. Terharu gw bacanya.
Alhamdullilah. salam, Lien.
2009 April 17 16:13
catatan salwangga mengatakan...
th's lien
gue baru insyaf aja kalau tugas istri memang luar biasa berat.
setiap saat ia harus menahan dada hendak meledak
bergelut dengan kenakalan anak gue.
gue jadi ingat emak gue dikampung
malam-malam suka nangis
secara, si botak tuch photocopy gue banget
bengalnya
badungnya
badernya
astaghfirullahal adzim...
kebayang gak, gimana (dada) rasanya ketika
kasur baru diangkat dari dijemur
selesai dipasang sprey
trus, si botak tuch berdiri diatas tempat tidur.
ngumpet dibalik hording jendela.
berdiri dan kencing disitu.
"Rangga, ngompol di tempat tidur sih?", kata istri gue sambil masih nahan diri. disabar-sabarin gitu.
"Enggak" kata Rangga. "Pipis doang koq" lagunya sambil nyengir doang.
Jumat, 17 April 2009
Rabu, 04 Februari 2009
cintaku sebatas jingga 4
anjing ceria
sehat gembira
aku tersenyum
menyongsong neraka...
dalam sesal dan pasrah
tapi?
oh... salahkan aku
didepanku seperti surga
sehat gembira
aku tersenyum
menyongsong neraka...
dalam sesal dan pasrah
tapi?
oh... salahkan aku
didepanku seperti surga
cintaku sebatas jingga 3
pundi pundi tak juga berarti
jiwaku sakit tak kunjung terobati
daging dan tulang ikut menggerogoti
kain popok tak muat lagi
kain kafan kian jelas menanti
kupasrah....
hingga kutemui anjing kelaparan
sekarat
nyaris mati
bairlah kupertaruhkan pundi
asal binatang ini hidup abadi
dalam sehat serba jasmani
"ayo, hisaplah satu-satunya saripati
kurelakan segala yang tinggal ini
kau lebih mulia hidup, dan
aku lebih layak mati"
jiwaku sakit tak kunjung terobati
daging dan tulang ikut menggerogoti
kain popok tak muat lagi
kain kafan kian jelas menanti
kupasrah....
hingga kutemui anjing kelaparan
sekarat
nyaris mati
bairlah kupertaruhkan pundi
asal binatang ini hidup abadi
dalam sehat serba jasmani
"ayo, hisaplah satu-satunya saripati
kurelakan segala yang tinggal ini
kau lebih mulia hidup, dan
aku lebih layak mati"
cintaku sebatas jingga 2
saat tubuh tak lagi kenyal
cinta semu tak lagi tertebar
yang tinggal hanya gelar:
"mantan pelacur"
cinta semu tak lagi tertebar
yang tinggal hanya gelar:
"mantan pelacur"
cintaku sebatas jingga
Gincu, bedak, penjepit alis
Girang berlompatan
Menyembul tak tahan diri
Ingin keluar segera dari tas
Masih agak semburat
merah jambu diufuk barat
Sinyal cintaku merambat
Saat malam, ya benar, saat malam
Cintaku bersemi
Siap ku jaja
Untuk siapa saja
Sebatas bibir
Membuncah
Mengalir
Menggerakkan sendi-sendi
Tapi sayang,
Hanya sampai pagi menjelang
Begitu mentari bertugas lagi
Cintaku buyar pergi
Cring cring cring
Kuhitung dentingan pundit-pundi
Tebusan cinta(semu)ku, semalam
Ah, masih kurang!
Nanti malam, cinta kan ku tebar kembali
Ah, kenapa harus ada matahari?
Cintaku tak juga abadi
Bahkan hingga kenyal kulitku tak berarti
Hai malam!
Datanglah,
Cintaku menanti
Girang berlompatan
Menyembul tak tahan diri
Ingin keluar segera dari tas
Masih agak semburat
merah jambu diufuk barat
Sinyal cintaku merambat
Saat malam, ya benar, saat malam
Cintaku bersemi
Siap ku jaja
Untuk siapa saja
Sebatas bibir
Membuncah
Mengalir
Menggerakkan sendi-sendi
Tapi sayang,
Hanya sampai pagi menjelang
Begitu mentari bertugas lagi
Cintaku buyar pergi
Cring cring cring
Kuhitung dentingan pundit-pundi
Tebusan cinta(semu)ku, semalam
Ah, masih kurang!
Nanti malam, cinta kan ku tebar kembali
Ah, kenapa harus ada matahari?
Cintaku tak juga abadi
Bahkan hingga kenyal kulitku tak berarti
Hai malam!
Datanglah,
Cintaku menanti
api abadi
menulis!
suara yang tak pernah redam ditelan angin
tiada lekang disiram hujan
tiada batas ruang dan waktu
gemanya abadi tak pandang zaman
ali bin abi tahlib berkata : ikatlah ilmu dengan menuliskannya
tumbuh badan sebatas usia
tumbuh jiwa sebatas asa
suara yang tak pernah redam ditelan angin
tiada lekang disiram hujan
tiada batas ruang dan waktu
gemanya abadi tak pandang zaman
ali bin abi tahlib berkata : ikatlah ilmu dengan menuliskannya
tumbuh badan sebatas usia
tumbuh jiwa sebatas asa
Selasa, 27 Januari 2009
senggol
kaki
saat kiri melangkah
kanan rela mengalah
tak pernah bertubrukan
saling jegal, apalagi dulu-duluan
aku hanya butuh "ada"
tak peduli apa dan bagaimana
"ada" ku terdefinisi
karena kau akui
sebenarnya kau pun tahu,
manusia hanya ingindiakui keberadaannya
tak perlu dibesarkan
kecilkan
sanjung
sesukamu,
tapi,
aku ada.
akuilah itu.
saat kiri melangkah
kanan rela mengalah
tak pernah bertubrukan
saling jegal, apalagi dulu-duluan
aku hanya butuh "ada"
tak peduli apa dan bagaimana
"ada" ku terdefinisi
karena kau akui
sebenarnya kau pun tahu,
manusia hanya ingindiakui keberadaannya
tak perlu dibesarkan
kecilkan
sanjung
sesukamu,
tapi,
aku ada.
akuilah itu.
Kamis, 06 November 2008
what you think, about...
“Hiburan orang mukmin berada dalam tiga hal: bersenang-senang dengan istri, bergurau dengan kawan, dan mendirikan shalat tahajud.” (Imam Muhammad Baqir)
Imaginasiku memang suka nyasar kemana-mana. Lah, gimana tidak. Saat nunggu kendaraan jemputan nasional (kereta) aku lebih asyik dengan buku. Maunya konsentrasi, lumayanlah, dapat selembar dua lembar. Aku cukup bersyukur diberikan kesenangan ini, membaca. Meskipun aku lakukan ini bukan untuk belajar, hanya sekedar senang. Jadi, jangan kau tanya sudah berapa banyak dan ilmu apa saja yang berhasil kuserap. Sungguh, aku membaca bukan untuk belajar atau mengikat makna, apalagi mengurainya. Aku hanya bersenang-senang. Sayangnya, kesenangan ini koq memberikan aku perasaan ambang bawah sadar beberapa kata yang meresap. Ajaib.
Memang, aku suka menuliskan beberapa kalimat yang menurutku layak untuk aku pikirkan sambil melamun. Setelah cukup lama melamun jorok, ini cukup efektif untuk melatih daya cerna penalaran dan melatih pikiran biar lempeng dikit. Nyatanya, sudut pikiranku tetap saja mengambil alih dalam saat-saat tertentu.
Sore ini, aku lebih tertarik mengamati sepasang (maunya sih muda mudi, tapi secara umur mereka sudah lebih 40. aku yakin itu. Penampakannya sudah jauh lebih berumur ketimbang aku) manula yang sedang bergandengan mesra. Aku tersenyum geli. Mereka, setua itu masih berani bergandengan –lebih tepat bergelayutan- tangan. Sesekali, kepala si wanita itu menempel manja di bahu pria yang lebih tinggi. Tunggu sebentar, wanita itu sepertinya masih sepantaran aku, atau sekitar 6 tahun lebih muda.
Masih tergelitik untuk mengikuti, entah penasaran apa ini namanya. Aku menemukan sebuah keganjilan diantara mereka. Aku belum tahu, apa itu. Sambil terus baca buku, saat kereta datang aku mengikuti pasangan itu. Mengambil duduk berseberangan, dan tahu persis apa yang mereka perbincangkan selama perjalanan. Ketawa cekikikan, becanda, berbagi makanan, tangan melingkar di leher, “koq mirip saat aku pacaran dulu”, pikirku. “hebat juga pasangan ini, dijalan saja bersenang-senang dengan renyah begini, bagaimana dirumah.”
Pas banget, dengan apa yang dikatakan buku. “bersenang-senang dengan isteri” merupakan hiburan orang mukmin. Aku katakan mukmin, karena saat wanita itu bersin berucap hamdalah. Umur mereka terpaut cukup jauh, padahal, tetapi pautan itu tidak membuat kecanggungan diantara mereka.
Tapi, saat sampai pertengahan perjalanan, keanehan terjadi. Saat si wanita itu beranjak, diikuti lelaki itu. Tak berapa lama, lelaki itu kembali masuk dan duduk ditempat semula. Dari luar jendela, wanita itu masih nyamperin dan jabat tangan. “besok digerbong tiga ya…”katanya. Dan, senyumnya itu loh, berharap banget pagi segera datang sehingga mereka berdua cepat bertemu untuk becanda kembali.
Wah, ini sih salah kaprah namanya. Hiburan orang mukmin itu bersenang-senang dengan istri, tetapi bukani istri orang lain. Istrimu sendiri. Lelaki itu, turunnya masih jauh bahkan setelah aku sampai tujuanku. “Besok, nguntit lagi ahhh… “ senyumku, “gerbong tiga!”
Lantas, bagaimana dengan bergurau? Sama. Kalau bisa menjadikan kawan seperjalanan menjadi partner becanda, isteri dan –apalagi- anak harus lebih dari itu. Tak jarang, (ini berarti sering) aku menjadikan sibotak itu (anakku) menjadi lawan becanda yang luar biasa hebohnya.
Pernah, sewaktu musim layangan. Aku beli layangan lima buah, beberapa gulung benang dan main sepuasnya dilapangan. Kami berdua sama-sama bertelanjang dada, sama-sama botak, berlarian ditengah tanah kosong dekat rumah. Jam sebelas siang sampai menjelang dhuhur, kami berdua teriak-teriak, ketawa ngakak, sesekali berebut menaikkan layangan. Hebatnya, tak satupun layangan berhasil mengudara. Semuanya robek. Terakhir, yang membuat kami memutuskan untuk bermain-main adalah, kakiku terantuk batu dan nyebur ke got sementara si botak diatas pundakku.
Kepala kecil itu, jelas-jelas terantuk batu. Muncul benjolan kecil, yang seharusnya menimbulkan rasa iba. Tetapi, aku tertawa dengan keras. Air mata hampir saja mengalir, tetapi si botak kecil itu malah menyambut tawaku dengan tawa yang lebih keras lagi. Ternyata, penderitaan kalau disikapi dengan gurauan (diterima dengan ikhlas) bisa menjadikannya tawa. Rasa sakit itu tidak lagi terasa.
Ya, aku menganggap anak dan isteriku, juga teman untuk bergurau. Disamping mereka-mereka yang tiap hari ketemu di jalan dan di kantor. kamu?
Ketiga adalah, mendirikan shalat tahajud sebagi hiburan. Kayaknya, susah deh. Aku mencoba mempraktekkan hal ini, ternyata cenderung menjadi beban. Bagaimana tidak, untuk bangun malam begitu berat rasanya.
Ada seekor setan (aku bilang seekor karena memang setan ini berekor, jangan tanya aku karena aku sendiri belum pernah melihatnya) bernama ar-Raha, menggoda hamba yang bangun di tengah malam bahwa waktu untuk beribadah belum tiba. Dia mengulang hal yang sama kapan saja hamba itu terbangun. Ketika berhasil menghalangi seorang hamba melakukan tahajud, maka setan itu akan mengencingi telinga hamba itu, menggerak-gerakkan ekornya, lantas lari menjauh.
Aku mendapati diriku, setiap malam pasti terbangun. Menurutku, kamu pun juga begitu. tak mungkin tidur non stop dari sore tahu-tahu subuh. Entah hanya melek sebentar trus mengira-ira “ini jam berapa ya” trus tertidur lagi. Atau juga, hanya sekedar terbangun tanpa melek sama sekali. Ini, biasanya kalau meraskan tubuh saking capeknya. Terlalu serakah dengan kegiatan di siang hari.
Sore hari sih, sudah kenceng banget keinginan untuk bangun malam trus tahajud. Tetapi, realisasinya, sungguh berbeda. Kau tahulah apa yang kumaksud dengan “sungguh berbeda”. Boleh jadi, dan ini pas banget dengan ucapan Baqir, si ar-Raha itu telah memenuhi kedua lubang telingaku dengan kencingnya. Tak jarang, subuhpun kelewat. Bahkan bangun tidur bukannya segar dan fit malah sebaliknya. Tubuhku loyo, dan tulang-tulang seperti dilolosi semua.
Bagaimana menjadikan tahajud menjadi kesenangan seorang mukmin kalau demikian? Waduh, aku pun bertanya-tanya lagi deh, “apa benar aku ini seorang mukmin?”
“Dengan menyebut Asma-Mu Ya Rabb, segala puja bagi-Mu, Wahai Pemilik kedermawanan, keagungan, dan ketinggian. Enghaku Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki. Hanya kepada-Mu aku mengadu saat sulit dan bahagia, Wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku, dan Suakaku. Duhai Sembahanku, dosa ini telah begitu menumpuk, menggunung, seberat bumi tempat aku berpijak. Sehingga begitu tertutup tubuh ini untuk menjadikan ketiga hal itu, bersenang-senang dengan isteri, bercanda dengan teman, dan menunaikan shalat tahajud sebagai hiburanku. Kelakuaku telah sedemikian membuat setan tertawa girang. Maka, ajari aku oh Tuhan, bisikkan ke dalam hatiku ini, bahwa ampunanmu jauh lebih agung dari dosaku yang menumpuk itu. Kalau Engkau tidak memberi ma’af-Mu, niscaya aku ini hanya seonggok dading yang terhina. Kemana lagi aku mencari pengampunan Ya Rabbi…”
aku menghela nafas, menelusuri jejak-jejak kaki selama ini. Ternyata, memang lebih banyak khilaf dan salah ketimbang sadarnya.
“Duhai Sembahanku, Engkau melihat kefakiran, dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi. Sembahanku, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu. Ampuni hamba-Mu ini ya Rabbi….”
Imaginasiku memang suka nyasar kemana-mana. Lah, gimana tidak. Saat nunggu kendaraan jemputan nasional (kereta) aku lebih asyik dengan buku. Maunya konsentrasi, lumayanlah, dapat selembar dua lembar. Aku cukup bersyukur diberikan kesenangan ini, membaca. Meskipun aku lakukan ini bukan untuk belajar, hanya sekedar senang. Jadi, jangan kau tanya sudah berapa banyak dan ilmu apa saja yang berhasil kuserap. Sungguh, aku membaca bukan untuk belajar atau mengikat makna, apalagi mengurainya. Aku hanya bersenang-senang. Sayangnya, kesenangan ini koq memberikan aku perasaan ambang bawah sadar beberapa kata yang meresap. Ajaib.
Memang, aku suka menuliskan beberapa kalimat yang menurutku layak untuk aku pikirkan sambil melamun. Setelah cukup lama melamun jorok, ini cukup efektif untuk melatih daya cerna penalaran dan melatih pikiran biar lempeng dikit. Nyatanya, sudut pikiranku tetap saja mengambil alih dalam saat-saat tertentu.
Sore ini, aku lebih tertarik mengamati sepasang (maunya sih muda mudi, tapi secara umur mereka sudah lebih 40. aku yakin itu. Penampakannya sudah jauh lebih berumur ketimbang aku) manula yang sedang bergandengan mesra. Aku tersenyum geli. Mereka, setua itu masih berani bergandengan –lebih tepat bergelayutan- tangan. Sesekali, kepala si wanita itu menempel manja di bahu pria yang lebih tinggi. Tunggu sebentar, wanita itu sepertinya masih sepantaran aku, atau sekitar 6 tahun lebih muda.
Masih tergelitik untuk mengikuti, entah penasaran apa ini namanya. Aku menemukan sebuah keganjilan diantara mereka. Aku belum tahu, apa itu. Sambil terus baca buku, saat kereta datang aku mengikuti pasangan itu. Mengambil duduk berseberangan, dan tahu persis apa yang mereka perbincangkan selama perjalanan. Ketawa cekikikan, becanda, berbagi makanan, tangan melingkar di leher, “koq mirip saat aku pacaran dulu”, pikirku. “hebat juga pasangan ini, dijalan saja bersenang-senang dengan renyah begini, bagaimana dirumah.”
Pas banget, dengan apa yang dikatakan buku. “bersenang-senang dengan isteri” merupakan hiburan orang mukmin. Aku katakan mukmin, karena saat wanita itu bersin berucap hamdalah. Umur mereka terpaut cukup jauh, padahal, tetapi pautan itu tidak membuat kecanggungan diantara mereka.
Tapi, saat sampai pertengahan perjalanan, keanehan terjadi. Saat si wanita itu beranjak, diikuti lelaki itu. Tak berapa lama, lelaki itu kembali masuk dan duduk ditempat semula. Dari luar jendela, wanita itu masih nyamperin dan jabat tangan. “besok digerbong tiga ya…”katanya. Dan, senyumnya itu loh, berharap banget pagi segera datang sehingga mereka berdua cepat bertemu untuk becanda kembali.
Wah, ini sih salah kaprah namanya. Hiburan orang mukmin itu bersenang-senang dengan istri, tetapi bukani istri orang lain. Istrimu sendiri. Lelaki itu, turunnya masih jauh bahkan setelah aku sampai tujuanku. “Besok, nguntit lagi ahhh… “ senyumku, “gerbong tiga!”
Lantas, bagaimana dengan bergurau? Sama. Kalau bisa menjadikan kawan seperjalanan menjadi partner becanda, isteri dan –apalagi- anak harus lebih dari itu. Tak jarang, (ini berarti sering) aku menjadikan sibotak itu (anakku) menjadi lawan becanda yang luar biasa hebohnya.
Pernah, sewaktu musim layangan. Aku beli layangan lima buah, beberapa gulung benang dan main sepuasnya dilapangan. Kami berdua sama-sama bertelanjang dada, sama-sama botak, berlarian ditengah tanah kosong dekat rumah. Jam sebelas siang sampai menjelang dhuhur, kami berdua teriak-teriak, ketawa ngakak, sesekali berebut menaikkan layangan. Hebatnya, tak satupun layangan berhasil mengudara. Semuanya robek. Terakhir, yang membuat kami memutuskan untuk bermain-main adalah, kakiku terantuk batu dan nyebur ke got sementara si botak diatas pundakku.
Kepala kecil itu, jelas-jelas terantuk batu. Muncul benjolan kecil, yang seharusnya menimbulkan rasa iba. Tetapi, aku tertawa dengan keras. Air mata hampir saja mengalir, tetapi si botak kecil itu malah menyambut tawaku dengan tawa yang lebih keras lagi. Ternyata, penderitaan kalau disikapi dengan gurauan (diterima dengan ikhlas) bisa menjadikannya tawa. Rasa sakit itu tidak lagi terasa.
Ya, aku menganggap anak dan isteriku, juga teman untuk bergurau. Disamping mereka-mereka yang tiap hari ketemu di jalan dan di kantor. kamu?
Ketiga adalah, mendirikan shalat tahajud sebagi hiburan. Kayaknya, susah deh. Aku mencoba mempraktekkan hal ini, ternyata cenderung menjadi beban. Bagaimana tidak, untuk bangun malam begitu berat rasanya.
Ada seekor setan (aku bilang seekor karena memang setan ini berekor, jangan tanya aku karena aku sendiri belum pernah melihatnya) bernama ar-Raha, menggoda hamba yang bangun di tengah malam bahwa waktu untuk beribadah belum tiba. Dia mengulang hal yang sama kapan saja hamba itu terbangun. Ketika berhasil menghalangi seorang hamba melakukan tahajud, maka setan itu akan mengencingi telinga hamba itu, menggerak-gerakkan ekornya, lantas lari menjauh.
Aku mendapati diriku, setiap malam pasti terbangun. Menurutku, kamu pun juga begitu. tak mungkin tidur non stop dari sore tahu-tahu subuh. Entah hanya melek sebentar trus mengira-ira “ini jam berapa ya” trus tertidur lagi. Atau juga, hanya sekedar terbangun tanpa melek sama sekali. Ini, biasanya kalau meraskan tubuh saking capeknya. Terlalu serakah dengan kegiatan di siang hari.
Sore hari sih, sudah kenceng banget keinginan untuk bangun malam trus tahajud. Tetapi, realisasinya, sungguh berbeda. Kau tahulah apa yang kumaksud dengan “sungguh berbeda”. Boleh jadi, dan ini pas banget dengan ucapan Baqir, si ar-Raha itu telah memenuhi kedua lubang telingaku dengan kencingnya. Tak jarang, subuhpun kelewat. Bahkan bangun tidur bukannya segar dan fit malah sebaliknya. Tubuhku loyo, dan tulang-tulang seperti dilolosi semua.
Bagaimana menjadikan tahajud menjadi kesenangan seorang mukmin kalau demikian? Waduh, aku pun bertanya-tanya lagi deh, “apa benar aku ini seorang mukmin?”
“Dengan menyebut Asma-Mu Ya Rabb, segala puja bagi-Mu, Wahai Pemilik kedermawanan, keagungan, dan ketinggian. Enghaku Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki. Hanya kepada-Mu aku mengadu saat sulit dan bahagia, Wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku, dan Suakaku. Duhai Sembahanku, dosa ini telah begitu menumpuk, menggunung, seberat bumi tempat aku berpijak. Sehingga begitu tertutup tubuh ini untuk menjadikan ketiga hal itu, bersenang-senang dengan isteri, bercanda dengan teman, dan menunaikan shalat tahajud sebagai hiburanku. Kelakuaku telah sedemikian membuat setan tertawa girang. Maka, ajari aku oh Tuhan, bisikkan ke dalam hatiku ini, bahwa ampunanmu jauh lebih agung dari dosaku yang menumpuk itu. Kalau Engkau tidak memberi ma’af-Mu, niscaya aku ini hanya seonggok dading yang terhina. Kemana lagi aku mencari pengampunan Ya Rabbi…”
aku menghela nafas, menelusuri jejak-jejak kaki selama ini. Ternyata, memang lebih banyak khilaf dan salah ketimbang sadarnya.
“Duhai Sembahanku, Engkau melihat kefakiran, dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi. Sembahanku, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu. Ampuni hamba-Mu ini ya Rabbi….”
Senin, 03 November 2008
bajing (gak pake -an)
saat kecil, sekira 4 atau 5 tahun (belum sekolah) aku sering duduk didepan rumah. apalagi musim hujan. meskipun siang, matahari tetap saja tak begitu menyengat. ada banyak pohon besar di sekeliling halaman. yang, dua puluh lima tahun kemudian baru aku sadari, bahwa rumah itu (rumah orang tuaku, maksudku) sangat luas. ini, bila dibandingkan dengan dimana saat ini aku tinggal. perumahan type 21/60, satu pintu, satu jendela, satu kamar, satu atap, satu lantai, satu tempat tidur, dan satu isteri..he..he..he.. dirumah ibuku, jika aku di dapur, trus ada tamu di depan rumah memanggil, sebelum 7 kali panggilan tak bakalan aku sahutin. bukan karena budeg, tetapi memang jarak pintu depan ke dapur terlalu jauh. perlu teriakan ekstra untuk itu. belum lagi tembok dan bilik pembatas, cukup menghalangi.
siang hari, banyak sekali bajing berlompatan. terkadang mengajak bercanda dengan berseliweran didepanku. burung berkicau beraneka suara juga masih banyak. sekeliling rumah itu memang lebih mirip hutan, pohon kelapa, bambu, munggur, waru, nangka belanda, sawo, dan juga pohon randu kapas yang tinggi menjulang. burung beo dan burung kakak tua masih biasa menjadi peliharaan orang kampung. apalagi cuma burung perkutut. tidak laku, tidak seperti saat ini, seekor saja ada yang sampai 500 rb. kadang aku berpikir, apakah kalau dibikin sate, setusuknya jadi satu juta ya? kamu mau beli?
sore itu, saya main kerumah paman. di depan rumahnya ada keranjang berbentuk bulat seperti bola takraw besar. diameter satu meter, mungkin. ada semacam kayu yang dipasang melintang dan menyilang, seakan membelah kerangjang itu ditengahnya. bola itu bisa berputar kesegala arah. dengan ditopang beberapa pasak tentunya. pernah lihat globe? itu loh, peta bumi yang berbentuk bulet. bisa diputar ke segala arah kan? nah, keranjang itu juga seperti itu. hanya bedanya, didalam keranjang bola itu ditaruh bajing dan beberapa ranting bambu kecil, tebu, kacang tanah yang masih jadi satu dengan pohonnya. satu saja yang tidak ada, kelapa, kesukaan si bajing. sungguh tersiksa, makanan kesukaan malah tidak disediakan. ya, itu sih terserah majikan. toh si bajing ini sudah menjadi tawanan. mau atau tidak, suka atau tidak, hanya yang disediakan itu yang bisa dimakan!
bajing itu, selalu menjejakkan kaki-kakinya ke tuas bola keranjang, juga sepanjang permukaan bagian dalam. mencengkeram, berlompatan, secepat mungkin, berlarian sekuat tenaga. berputar-putar di dalam keranjang. praktis, keranjang itupun ikut berputar. seakan, tanpa lelah, bekerja keras terus menerus, istirahat sebentar hanya untuk makan, tidur, menjejakkan kaki lagi. begitu terus. aku suka sekali mengamati bajing itu. bahkan, kalau berhenti karena kecapaian, ranting ditanganku beraksi, sengaja aku godain biar terus berlari di dalam keranjang. aku sangat senang bila melihat keranjang itu berputar semakin cepat. sekuat apapun bajing itu bekerja keras, berlari, begitu bangun pagi di hari lain, minggu lain, bulan lain, bahkan tahun berikutnya, tetap saja di dalam lingkaran keranjang itu. tak beranjak. tetap di tempat.
sekarang, setelah lebih 25 tahun berlalu. siksaanku dan kegemaranku mempermainkan si bajing itu, kini menimpaku. Tuhan maha tahu, saat ini aku sedang mengalami sebagaimana bajing berlari sekuat tenaga. terkadang, aku berharap, pagi saat bangun tidur aku mendapati dunia baru, semangat baru, gairah baru. dan, memang benar, itu terjadi. tetapi, hal-hal baru itu hanya sekejap, sementara karena hanya sebatas "rasa", bukan actual. kenyataanya aku tetap di "dalam keranjang" untuk memulai lagi rutinitas harian. bangun pagi, berangkat kerja, sampai kantor, pulang, sampai rumah lagi. begitu seterusnya. kalau dibilang berkembang secara finansial, tidak juga. meskipun, pendapatan gaji bulananku lebih dari 20 kali lipat saat pertama kali masuk di paberik ini. dibanding inflasi dan tuntutan kebutuhan (dulu sih sendiri, masih ngontrak, tidak banyak pengeluaran) satu isteri plus dua anak. rasanya tak salah kalau kukatakan "jalan ditempat".
lebih parah lagi, aku merasakan, bukan hanya aku saja jalan ditempat, sementara diluaran sana perubahan terjadi setiap waktu begitu cepat. meskipun kaki dan tanganku, bahkan kucuran keringatku jauh lebih deras ketimbang bajing, nyatanya aku tetap di dalam keranjang ketika aku bangun pagi di hari-hari berikutnya. kenyataannya, jiwaku juga begitu. jiwaku masih terkungkung sebagaimana jasad. aku jadi berpikir, "apa bedanya aku sama bajing itu". perasaan sih, sudah sangat keras bekerja.
bajing sih wajar, binatang. jiwanya terbatas hanya sekedar nyawa. tapi, aku ini kan diciptakan sebagai manusia. yang katanya "makhluk paling sempurna". lantas, apanya yang sempurna? "pasti, ada yang salah nih", pikirku. berarti, -ini mungkin loh ya- boleh saja badanku bekerja keras dan terkungkung oleh keterbatasan (atau, kepengecutan?), tetapi aku masih punya jiwa yang harus segera aku bebaskan. inilah hidup yang semestinya lebih hidup. bagaimana caranya agar jiwaku bebas, lepas, kuat mencerminkan identitas diri ? inilah yang perlu dicari. bukan berarti bebas itu liar loh. sekali lagi, kukatakan disini, bebasnya jiwa, berarti lepas untuk menuju hakikat jiwa itu sendiri. bebas menjadi kuat, dan tidak kelaparan, tidak terbelenggu oleh dunia. dan, jiwa yang aku maksud disini lebhi identik dengan rukhani tetapi bukan rukhani semata-mata. jauh lebih kompleks dari itu.
posisiku, saat ini adalah pekerja. pernah ada yang menuliskan idiom bahwa "pekerja, bekerja keras agar tidak dipecat. pengusaha sekedar membayar secukupnya agar karyawan tidak berhenti kerja", rasanya, ini ada benarnya juga. lantas, apakah aku termasuk dalam kategori idiom ini?
oh iya, benar. bisa jadi, karena aku terlalu lemah. aku jadi teringat beberapa kalimat dari ustadz yusuf mansur dalam bukunya mencari tuhan yang hilang. sayang sekali, buku itu kini sedang dipinjam seorang teman (bisanya aku membuka buku yang pernah aku baca, bila menemukan sesuatu yang ingin kembali aku kupas sementara aku lupa-lupa ingat), sehingga aku hanya bisa mencoba mengingat sebisaku. intinya begini, dalam diri manusia itu ada enam hal yang bisa menjadikannya kekuatan luar bisa. akan diangkat derajatnya, jika mampu menggali dan menerapkannya. bukan dalam artian phisik saja, terutama jiwanya.
apa sajakah ke-enam hal itu, coba-coba mengingat dan menuliskannya kembali. dan, ternyata, ini dia:
pertama, kekuatan iman. tidak bisa dielakkan lagi, iman menduduki peringkat pertama yang memiliki daya dorong paling besar (paling tinggi) dalam kehidupan manusia. "kuatkanlah imanmu, murnikanlah tauhidmu. niscaya jiwamu memiliki pijakan mantab sekaligus sandaran vertikal yang kuat. kekuatan iman ini, bisa menjadi titik api bagi kekuatan-kekuatan lain. sederhana sebenarnya sih, iman ini cukup percaya bahwa diatas langit masih ada langit dan diatas segalanya masih ada kekuatan serba maha. si iman inilah yang bertugas mencari si serba maha itu.
kedua adalah, kekuatan percaya diri. nah, percaya diri inilah yang sering aku jadikan kambing congek atas ketidak berdayaanku. masih ada korelasinya dengan yang pertama tadi -iman-, barang siapa yang mengenal tuhannya, maka ia mengenal dirinya sendiri. dalam legenda jepang, dikenal adanya tiga benda yang dikabarkan memiliki tuah sakti. ialah, pedang, mutiara dan cermin. pedang melambangkan senjata (lihat saja amerika disegani karena canggih persenjataannya dan mencoba menekan iran ketika hendak mengembangkan teknologi nuklir -takut kesaingan), mutiara berarti uang (jelas saja, orang yang banyak uang lebih mudah berperanan -kekuatan pun bisa diperoleh dari sini), cermin melambangkan koreksi diri, atau mempertanyakan diri, bertindak hati-hati, penuh pemikiran terlebih dulu. dari ketika legenda itu yang paling sakti adalah "Cermin". cerna sendiri deh, kenapa.
trus, agak lupa nih. yang ketiga apa ya?
hmmm, ya. kekuatan pikiran positif. aku lebih mengenalnya dengan berbaik sangka atau istilah kerennya "positif thinking". biar dikira kebule-bulean, biar dikira pinter, biar dikira kumpeni, inggris dikit ga pa pa lah. bener juga, kata-kata positif lebih mempunyai daya dorong untuk mensupport rasa percaya diri, ketimbang kata-kata negative. aku pernah, mengatakan pada anakku yang kecil (rangga, 2,5 tahun) "hayo, kalau gak mau masuk. disitu ada tikus loh. kalau digigit sakit, berdarah", kataku. lantas aku berekspresi menyeringai menirukan macan sedang mengaum "haaawwwww...!!!" sambil tanganku menirukan cakar-cakar mengembang. efektif, si botak kecil itu (dia selalu cukur botak dari lahir hingga sekarang) berlari masuk rumah dari arah dapur. tapi, imbasnya, sampai sekarang ia takut ke dapur sendirian,"ada itus, anda atut - ada tikus rangga takut" katanya. ternyata, di dalam benak dan pikiran rangga ini, didapur, sendirian, adalah hal yang menakutkan karena akan ada tikus yang siap menggigit.
saat lain, aku main bola dengan dengan rangga. bola itu nyebur ke got cukup dalam. "ayo ambil, rangga kan hebat. di got itu cuma air. rangga kan suka air. paling basah. kotor dikit, tar cuci lagi gampang kok" kataku. efektif, si botak itu langsung nyebur ke got (belakangan, hal ini menjadikan ibunya marah-marah karena baju kotor semua) dan mengambil itu bola. hari-hari berikutnya, rangga tak segan nyebur got dan tidak pernah "takut" meskipun dibilang "ada cacing loh, ada kecoa, ada tikus" dan sebagainya. dalam benak rangga, di got itu tidak ada apa-apanya kecuali air. dan, air sungguh menyenangkan. itulah, positif thinking yang coba aku uraikan untuk memperjelas, bagaimana pengaruh engergi positif yang dihasilkan.
keempat, kekuatan perubahan. ini sih, sudah jelas banget. tak perlu dijabarkan lagi. setelah iman mantab, percaya diri tinggi, pikiran positif, perubahan menduduki peringkat selanjutnya. apapun, kalau mau lebih baik harus melalui pintu yang namanya "perubahan". bajing tadi, pergerakannya sama. berlari terus, tanpa mau berubah. makanya, tetap saja di tempat. sekuat dan sekeras apapun, keranjang tadi tetap mengurungnya. kalau saja, otak bajing tadi bisa berfikir dengan cerdik, tentulah ia akan mulai menggerogoti keranjang bambu sedikit demi sedikit. menciptakan lubang kecil, hingga akhirnya bertambah besar seiring gigitan berikutnya. sampai, badannya cukup muat dengan lubang itu. tapi, mana mampu ia berfikir. toh, di dalam keranjang itu sudah ada cukup makanan, permainan, dan juga, tempat tidur. ternyata, rutinitas bisa membutakan "intuisi" yang setiap saat seharusnya membaca peluang.
kekuatan sedekah, adalah hal yang kelima. ini, jelas berlaku hanya untuk manusia. kalau bajing tadi sih, apanya yang mau disedekahin. untuk hal sedekah ini, aku memiliki pengalaman unik. saat sedang mandi, tepatnya selesai mandi dan tinggal menggosok gigi, kupingku kemasukan air. ini sih, bukan hal baru lagi. dulu, waktu kecil sering mandi dikali dan soal kemasukan air sudah biasa. aku miringkan kepala, kembali memasukkan air kelubang telinga, diam sebentar. segera berbalik. dan, plong! air pun mengalir dengan sendirinya. tak perlu repot-repot. ada tetangga (ceritanya, ia ini kaum borju nih. tapi, kuper) anaknya kemasukan air. eh, malah dikorek-korek pakai kapas, itu tuh, cutton but. bukannya keluar, si bocah malah nangis kesakitan, kupingnya merah terlalu dalem dikorek. filosofinya, sederhanya ternyata; keluarkaan air dengan air. begitupun, sedekah. "oh, tentunya jiwaku juga akan semakin bebas dan kuat jika aku banyak sedekah" pikirku.
keenamnya adalah, kekuatan do'a (dan totalitas penyerahan diri). sangat jelas jelas. bagiku, pasrah dan ikhlas adalah kekuatan yang tidak ada lagi yang bisa menandingi. meskipun berada diurutan terakhir, karena asumsi secara "bahasa yang biasa" dasar kata-nya dalah "serah" atau"menyerah". ada cerita unik, seputar penyerahan diri ini. "ya udah mas, kalau memang dianggap sudah tidak pantas hidup lagi, bunuh saja aku" begitu kata seorang isteri yang sering dianiaya suaminya. si suami bengis, bukannya mengambil golok segera menebas leher si isteri (belakangan, ia ternyata isteri-isterian) malah duduk tepekur, menunduk. eh, bulan berikutnya, sudah resmi menjadi isteri syah.
do'a, ternyata muara segala muara dari setiap keinginan. pasrah, ikhlas, apapun yang terjadi.
ya, badanku memang di dalam keranjang "pabrik" ini, tetapi, aku bukan bajing. silahkan saja, badanku dicengkeram rutinitas kerja. tetapi, aku masih punya jiwa, yang justeru penuh potensi. biarkan jiwaku bebas menemukan jati diri.
bagaimana dengan anda?
*) bajing itu tupai, kalau kau belum tahu. makhluk paling lincah dan paling enerjik, tidak pernah mau diam. hobbynya nyuri kelapa. gigi dan taringnya sangat kuat. tetapi tak berdaya ketika ditaruh didalam keranjang bola. karena, pijakan kakinya selalu menyebabkan keranjang itu berputar. dan, ini (perputaran keranjang, aku ibaratkan sebagai perubahan dunia yang serba cepat) mengakibatkan si bajing lumpuh dengan dengan segala kelincahannya. walau ia bekerja sekeras (berlari sekencang) mungkin, saat bangun tidur tetap saja masih disitu-situ juga.
"duhai dzat yang maha pengampun dan yang maha menerima taubat.
hambamu datang bersama segunung dosa dan sehampar samudera khilaf.
bahkan bumi pun tak sanggup menanggung dosaku.
hanya keyakinanku yang berbisik, ampunan-Mu jauh lebih agung dan lebih luas dari itu.
wahai dzat yang maha suci, Engkau pula-lah yang menyucikan jiwaku.
ya Rabb, Engkau yang menciptakan aku, Engkau yang memelihara aku, Engkau yang mengatur aku.
ajari hambamu yang lemah ini, bagaimana memunculkan dan memupuk;
iman, percaya diri, baik sangka, perubahan, sedekah, dan berserah diri, agar menjadi kekuatan bagi diri.
sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha perkasa, Engkau pula yang memberi kekuatan pada hamba.
cukuplah Engkau sebagai wali hamba, dan cukupkan Engkau sebagai penolong hamba.
amin.
siang hari, banyak sekali bajing berlompatan. terkadang mengajak bercanda dengan berseliweran didepanku. burung berkicau beraneka suara juga masih banyak. sekeliling rumah itu memang lebih mirip hutan, pohon kelapa, bambu, munggur, waru, nangka belanda, sawo, dan juga pohon randu kapas yang tinggi menjulang. burung beo dan burung kakak tua masih biasa menjadi peliharaan orang kampung. apalagi cuma burung perkutut. tidak laku, tidak seperti saat ini, seekor saja ada yang sampai 500 rb. kadang aku berpikir, apakah kalau dibikin sate, setusuknya jadi satu juta ya? kamu mau beli?
sore itu, saya main kerumah paman. di depan rumahnya ada keranjang berbentuk bulat seperti bola takraw besar. diameter satu meter, mungkin. ada semacam kayu yang dipasang melintang dan menyilang, seakan membelah kerangjang itu ditengahnya. bola itu bisa berputar kesegala arah. dengan ditopang beberapa pasak tentunya. pernah lihat globe? itu loh, peta bumi yang berbentuk bulet. bisa diputar ke segala arah kan? nah, keranjang itu juga seperti itu. hanya bedanya, didalam keranjang bola itu ditaruh bajing dan beberapa ranting bambu kecil, tebu, kacang tanah yang masih jadi satu dengan pohonnya. satu saja yang tidak ada, kelapa, kesukaan si bajing. sungguh tersiksa, makanan kesukaan malah tidak disediakan. ya, itu sih terserah majikan. toh si bajing ini sudah menjadi tawanan. mau atau tidak, suka atau tidak, hanya yang disediakan itu yang bisa dimakan!
bajing itu, selalu menjejakkan kaki-kakinya ke tuas bola keranjang, juga sepanjang permukaan bagian dalam. mencengkeram, berlompatan, secepat mungkin, berlarian sekuat tenaga. berputar-putar di dalam keranjang. praktis, keranjang itupun ikut berputar. seakan, tanpa lelah, bekerja keras terus menerus, istirahat sebentar hanya untuk makan, tidur, menjejakkan kaki lagi. begitu terus. aku suka sekali mengamati bajing itu. bahkan, kalau berhenti karena kecapaian, ranting ditanganku beraksi, sengaja aku godain biar terus berlari di dalam keranjang. aku sangat senang bila melihat keranjang itu berputar semakin cepat. sekuat apapun bajing itu bekerja keras, berlari, begitu bangun pagi di hari lain, minggu lain, bulan lain, bahkan tahun berikutnya, tetap saja di dalam lingkaran keranjang itu. tak beranjak. tetap di tempat.
sekarang, setelah lebih 25 tahun berlalu. siksaanku dan kegemaranku mempermainkan si bajing itu, kini menimpaku. Tuhan maha tahu, saat ini aku sedang mengalami sebagaimana bajing berlari sekuat tenaga. terkadang, aku berharap, pagi saat bangun tidur aku mendapati dunia baru, semangat baru, gairah baru. dan, memang benar, itu terjadi. tetapi, hal-hal baru itu hanya sekejap, sementara karena hanya sebatas "rasa", bukan actual. kenyataanya aku tetap di "dalam keranjang" untuk memulai lagi rutinitas harian. bangun pagi, berangkat kerja, sampai kantor, pulang, sampai rumah lagi. begitu seterusnya. kalau dibilang berkembang secara finansial, tidak juga. meskipun, pendapatan gaji bulananku lebih dari 20 kali lipat saat pertama kali masuk di paberik ini. dibanding inflasi dan tuntutan kebutuhan (dulu sih sendiri, masih ngontrak, tidak banyak pengeluaran) satu isteri plus dua anak. rasanya tak salah kalau kukatakan "jalan ditempat".
lebih parah lagi, aku merasakan, bukan hanya aku saja jalan ditempat, sementara diluaran sana perubahan terjadi setiap waktu begitu cepat. meskipun kaki dan tanganku, bahkan kucuran keringatku jauh lebih deras ketimbang bajing, nyatanya aku tetap di dalam keranjang ketika aku bangun pagi di hari-hari berikutnya. kenyataannya, jiwaku juga begitu. jiwaku masih terkungkung sebagaimana jasad. aku jadi berpikir, "apa bedanya aku sama bajing itu". perasaan sih, sudah sangat keras bekerja.
bajing sih wajar, binatang. jiwanya terbatas hanya sekedar nyawa. tapi, aku ini kan diciptakan sebagai manusia. yang katanya "makhluk paling sempurna". lantas, apanya yang sempurna? "pasti, ada yang salah nih", pikirku. berarti, -ini mungkin loh ya- boleh saja badanku bekerja keras dan terkungkung oleh keterbatasan (atau, kepengecutan?), tetapi aku masih punya jiwa yang harus segera aku bebaskan. inilah hidup yang semestinya lebih hidup. bagaimana caranya agar jiwaku bebas, lepas, kuat mencerminkan identitas diri ? inilah yang perlu dicari. bukan berarti bebas itu liar loh. sekali lagi, kukatakan disini, bebasnya jiwa, berarti lepas untuk menuju hakikat jiwa itu sendiri. bebas menjadi kuat, dan tidak kelaparan, tidak terbelenggu oleh dunia. dan, jiwa yang aku maksud disini lebhi identik dengan rukhani tetapi bukan rukhani semata-mata. jauh lebih kompleks dari itu.
posisiku, saat ini adalah pekerja. pernah ada yang menuliskan idiom bahwa "pekerja, bekerja keras agar tidak dipecat. pengusaha sekedar membayar secukupnya agar karyawan tidak berhenti kerja", rasanya, ini ada benarnya juga. lantas, apakah aku termasuk dalam kategori idiom ini?
oh iya, benar. bisa jadi, karena aku terlalu lemah. aku jadi teringat beberapa kalimat dari ustadz yusuf mansur dalam bukunya mencari tuhan yang hilang. sayang sekali, buku itu kini sedang dipinjam seorang teman (bisanya aku membuka buku yang pernah aku baca, bila menemukan sesuatu yang ingin kembali aku kupas sementara aku lupa-lupa ingat), sehingga aku hanya bisa mencoba mengingat sebisaku. intinya begini, dalam diri manusia itu ada enam hal yang bisa menjadikannya kekuatan luar bisa. akan diangkat derajatnya, jika mampu menggali dan menerapkannya. bukan dalam artian phisik saja, terutama jiwanya.
apa sajakah ke-enam hal itu, coba-coba mengingat dan menuliskannya kembali. dan, ternyata, ini dia:
pertama, kekuatan iman. tidak bisa dielakkan lagi, iman menduduki peringkat pertama yang memiliki daya dorong paling besar (paling tinggi) dalam kehidupan manusia. "kuatkanlah imanmu, murnikanlah tauhidmu. niscaya jiwamu memiliki pijakan mantab sekaligus sandaran vertikal yang kuat. kekuatan iman ini, bisa menjadi titik api bagi kekuatan-kekuatan lain. sederhana sebenarnya sih, iman ini cukup percaya bahwa diatas langit masih ada langit dan diatas segalanya masih ada kekuatan serba maha. si iman inilah yang bertugas mencari si serba maha itu.
kedua adalah, kekuatan percaya diri. nah, percaya diri inilah yang sering aku jadikan kambing congek atas ketidak berdayaanku. masih ada korelasinya dengan yang pertama tadi -iman-, barang siapa yang mengenal tuhannya, maka ia mengenal dirinya sendiri. dalam legenda jepang, dikenal adanya tiga benda yang dikabarkan memiliki tuah sakti. ialah, pedang, mutiara dan cermin. pedang melambangkan senjata (lihat saja amerika disegani karena canggih persenjataannya dan mencoba menekan iran ketika hendak mengembangkan teknologi nuklir -takut kesaingan), mutiara berarti uang (jelas saja, orang yang banyak uang lebih mudah berperanan -kekuatan pun bisa diperoleh dari sini), cermin melambangkan koreksi diri, atau mempertanyakan diri, bertindak hati-hati, penuh pemikiran terlebih dulu. dari ketika legenda itu yang paling sakti adalah "Cermin". cerna sendiri deh, kenapa.
trus, agak lupa nih. yang ketiga apa ya?
hmmm, ya. kekuatan pikiran positif. aku lebih mengenalnya dengan berbaik sangka atau istilah kerennya "positif thinking". biar dikira kebule-bulean, biar dikira pinter, biar dikira kumpeni, inggris dikit ga pa pa lah. bener juga, kata-kata positif lebih mempunyai daya dorong untuk mensupport rasa percaya diri, ketimbang kata-kata negative. aku pernah, mengatakan pada anakku yang kecil (rangga, 2,5 tahun) "hayo, kalau gak mau masuk. disitu ada tikus loh. kalau digigit sakit, berdarah", kataku. lantas aku berekspresi menyeringai menirukan macan sedang mengaum "haaawwwww...!!!" sambil tanganku menirukan cakar-cakar mengembang. efektif, si botak kecil itu (dia selalu cukur botak dari lahir hingga sekarang) berlari masuk rumah dari arah dapur. tapi, imbasnya, sampai sekarang ia takut ke dapur sendirian,"ada itus, anda atut - ada tikus rangga takut" katanya. ternyata, di dalam benak dan pikiran rangga ini, didapur, sendirian, adalah hal yang menakutkan karena akan ada tikus yang siap menggigit.
saat lain, aku main bola dengan dengan rangga. bola itu nyebur ke got cukup dalam. "ayo ambil, rangga kan hebat. di got itu cuma air. rangga kan suka air. paling basah. kotor dikit, tar cuci lagi gampang kok" kataku. efektif, si botak itu langsung nyebur ke got (belakangan, hal ini menjadikan ibunya marah-marah karena baju kotor semua) dan mengambil itu bola. hari-hari berikutnya, rangga tak segan nyebur got dan tidak pernah "takut" meskipun dibilang "ada cacing loh, ada kecoa, ada tikus" dan sebagainya. dalam benak rangga, di got itu tidak ada apa-apanya kecuali air. dan, air sungguh menyenangkan. itulah, positif thinking yang coba aku uraikan untuk memperjelas, bagaimana pengaruh engergi positif yang dihasilkan.
keempat, kekuatan perubahan. ini sih, sudah jelas banget. tak perlu dijabarkan lagi. setelah iman mantab, percaya diri tinggi, pikiran positif, perubahan menduduki peringkat selanjutnya. apapun, kalau mau lebih baik harus melalui pintu yang namanya "perubahan". bajing tadi, pergerakannya sama. berlari terus, tanpa mau berubah. makanya, tetap saja di tempat. sekuat dan sekeras apapun, keranjang tadi tetap mengurungnya. kalau saja, otak bajing tadi bisa berfikir dengan cerdik, tentulah ia akan mulai menggerogoti keranjang bambu sedikit demi sedikit. menciptakan lubang kecil, hingga akhirnya bertambah besar seiring gigitan berikutnya. sampai, badannya cukup muat dengan lubang itu. tapi, mana mampu ia berfikir. toh, di dalam keranjang itu sudah ada cukup makanan, permainan, dan juga, tempat tidur. ternyata, rutinitas bisa membutakan "intuisi" yang setiap saat seharusnya membaca peluang.
kekuatan sedekah, adalah hal yang kelima. ini, jelas berlaku hanya untuk manusia. kalau bajing tadi sih, apanya yang mau disedekahin. untuk hal sedekah ini, aku memiliki pengalaman unik. saat sedang mandi, tepatnya selesai mandi dan tinggal menggosok gigi, kupingku kemasukan air. ini sih, bukan hal baru lagi. dulu, waktu kecil sering mandi dikali dan soal kemasukan air sudah biasa. aku miringkan kepala, kembali memasukkan air kelubang telinga, diam sebentar. segera berbalik. dan, plong! air pun mengalir dengan sendirinya. tak perlu repot-repot. ada tetangga (ceritanya, ia ini kaum borju nih. tapi, kuper) anaknya kemasukan air. eh, malah dikorek-korek pakai kapas, itu tuh, cutton but. bukannya keluar, si bocah malah nangis kesakitan, kupingnya merah terlalu dalem dikorek. filosofinya, sederhanya ternyata; keluarkaan air dengan air. begitupun, sedekah. "oh, tentunya jiwaku juga akan semakin bebas dan kuat jika aku banyak sedekah" pikirku.
keenamnya adalah, kekuatan do'a (dan totalitas penyerahan diri). sangat jelas jelas. bagiku, pasrah dan ikhlas adalah kekuatan yang tidak ada lagi yang bisa menandingi. meskipun berada diurutan terakhir, karena asumsi secara "bahasa yang biasa" dasar kata-nya dalah "serah" atau"menyerah". ada cerita unik, seputar penyerahan diri ini. "ya udah mas, kalau memang dianggap sudah tidak pantas hidup lagi, bunuh saja aku" begitu kata seorang isteri yang sering dianiaya suaminya. si suami bengis, bukannya mengambil golok segera menebas leher si isteri (belakangan, ia ternyata isteri-isterian) malah duduk tepekur, menunduk. eh, bulan berikutnya, sudah resmi menjadi isteri syah.
do'a, ternyata muara segala muara dari setiap keinginan. pasrah, ikhlas, apapun yang terjadi.
ya, badanku memang di dalam keranjang "pabrik" ini, tetapi, aku bukan bajing. silahkan saja, badanku dicengkeram rutinitas kerja. tetapi, aku masih punya jiwa, yang justeru penuh potensi. biarkan jiwaku bebas menemukan jati diri.
bagaimana dengan anda?
*) bajing itu tupai, kalau kau belum tahu. makhluk paling lincah dan paling enerjik, tidak pernah mau diam. hobbynya nyuri kelapa. gigi dan taringnya sangat kuat. tetapi tak berdaya ketika ditaruh didalam keranjang bola. karena, pijakan kakinya selalu menyebabkan keranjang itu berputar. dan, ini (perputaran keranjang, aku ibaratkan sebagai perubahan dunia yang serba cepat) mengakibatkan si bajing lumpuh dengan dengan segala kelincahannya. walau ia bekerja sekeras (berlari sekencang) mungkin, saat bangun tidur tetap saja masih disitu-situ juga.
"duhai dzat yang maha pengampun dan yang maha menerima taubat.
hambamu datang bersama segunung dosa dan sehampar samudera khilaf.
bahkan bumi pun tak sanggup menanggung dosaku.
hanya keyakinanku yang berbisik, ampunan-Mu jauh lebih agung dan lebih luas dari itu.
wahai dzat yang maha suci, Engkau pula-lah yang menyucikan jiwaku.
ya Rabb, Engkau yang menciptakan aku, Engkau yang memelihara aku, Engkau yang mengatur aku.
ajari hambamu yang lemah ini, bagaimana memunculkan dan memupuk;
iman, percaya diri, baik sangka, perubahan, sedekah, dan berserah diri, agar menjadi kekuatan bagi diri.
sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha perkasa, Engkau pula yang memberi kekuatan pada hamba.
cukuplah Engkau sebagai wali hamba, dan cukupkan Engkau sebagai penolong hamba.
amin.
Selasa, 14 Oktober 2008
ini loh, SMA ku yang dialiri sungai mekong itu
catatan : tulisan ini copas dari website SMAN 1 Prambanan
Sejarah Berdirinya SMA N 1 Prambanan
Pendirian SMA Negeri 1 Prambanan didirikan atas dasar cita-cita yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 khususnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan maka disetiap daerah didirikan sebuah Sekolah Umum Tingkat Atas termasuk wilayah Prambanan.,dengan berdirinya SMA Negeri 1 Prambanan maka semakin lengkap lembaga pendidikan di wilayah kecamatan Prambanan disamping SMK dan SMA Swasta.Hal ini diharapkan semakin mampu mendongkrak kwalitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di wilayah Prambanan.
SMA Negeri 1 Prambanan secara geografis terletak di jalan Prambanan Piyungan., sekitar 4 KM kearah selatan dari Candi Prambanan , tepatnya SMA Negeri 1 Prambanan beralamatkan di dusun Madubaru, Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. SMA Negeri 1 Prambanan juga dikenal masyarakat Prambanan seperti nama dusun yang berdampingan dengan lokasi SMA Negeri 1 Prambanan yaitu dusun Gumuk, maka juga biasa disebut SMA Gumuk.
Perkembangan SMA Negeri 1 Prambanan dapat di lihat dari dekat, semakin memiliki daya tarik tersendiri. Hal ini disebabkan karena dinamika perkembangannya dari tahun ke tahun menunjukan kemajuan yang semakin berarti dan dapat diterima dihati masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Prambanan dan sekitarnya.
Prestasi SMA Negeri 1 Prambanan semakin hari semakin membaik, hal ini dapat dilihat dari hasil kekulusannya yang semakin banyak masuk ke Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, sekaligus semakin banyaknya animo yang akan sekolah di SMA Negeri 1 Prambanan semakin lama semakin banyak. Oleh karena itu Pemerintah menyadari akan perlunya menambah kelas sehingga harus ada perubahan tipe dari tipe C yang membuka 3 atau 4 kelas setiap angkatan menjadi tipe B yang membuka kesempatan 6 kelas setiap angkatan. Hal ini memiliki konsekuwensi dengan menambah tenaga pengajar dan tenaga kerja. Guru dan karyawan semakin tahun bertambah semakin banyak mengikuti perkembangan sekolah yang di sesuaikan dengan kebutuhan, bahkan sampai sekarang masih meminta bantuan guru swata untuk mengabdikan diri di SMA Negeri 1 Prambanan dengan status wiyata bakti, honoer.
Sejarah SMA Negeri 1 Prambanan dapat kita pelajari melalui perkembangannya dari tahap demi tahap yang akan kita uraikan di dalam “SELAYANG PANDANG SMA NEGERI 1 PRAMBANAN”.
Dalam rangka memenuhi kewajiban Pemerintah menyelenggarakan system Pendidikan seperti tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 di seluruh tanah air Indonesia tidak ketinggalan di Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Pada tahun 1985 didirikan sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri Prambanan yang terletak di Dusun Madubaru, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan,Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun sebelum gedung terselesaikan di bangun maka siswa dididik di SMA Negeri 1 Kalasan yang terletak di jalan Jogya Solo, Tepatnya di Dusun Bogem maka masyarakat juga menyebutnya dengan SMA Bogem.
Diawal berdirinya walaupun gedung belum dibangun namun karena sudah mulai menerima siswa sebagai subyek didik maka yang mengajar adalah Guru guru SMA Negeri 1 Kalasan dengan cara Prases belajar-mengajar dilaksanakan pada sore hari. Hal ini didasarkan disamping supaya tidak mengganggu proses belajar-mengajar SMA Negeri 1 Kalasan juga pada sore hari guru SMA Negeri 1 Kalasan bisa meluangkan waktunya untuk mengajar di SMA Negeri 1 Prambanan yang dititipkan di SMA Negeri 1 Kalasan.Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa apabila guru belum ada maka kepala sekolahpun juga belum ada yang menerima Surat tugas. Pada tanggal 1 Januari SMA Negeri 1 Prambanan mulai menerima guru difinitif yang pertama SK pertama sebagai guru adalah Bapak Dalimin yang dengan latar belakang pendidikan D3 jurusan Ekonomi Akutansi dari Universitas Sebelas Maret Solo Jawa tenggah.Bapak Dalimin sebagai penerima SK pertama maka dalam penulisan selayang pandang SMA Negeri 1 Prambanan beliau sebagai nara sumber dan sekaligus sampai sekarang Bapak Dalimin masih aktif mengajar Ekonomi Akutansi di SMA Negeri 1 Prambanan, disamping guru dan karyawan yang lain.
Periodesasi kepemimpinan di SMA Negeri 1 Prambanan :
III.1.1 Drs. Abdullah PW. 1985 - 1987Sebagai Kepala Sekolah pertama di SMA Negeri 1 Prambanan memangku jabatan dari tahun 1985 sampai 1987 dengan jumlah 3 kelas setiap pararel sehingga berjumlah 9 Kelas. Adapun sarana gedung yang sudah tersedia 9 ruang kelas,1 ruang guru, 1 ruang Kepala Sekolah, 1 ruang Tata Usaha dan 1 ruang laboraturium.
III.1.2 Edi Sugiarto 1987 - 1992Pada masa Kepemimpinan Bapak Edi Sugiyarto disamping mempertahankan jumlah kelas yang sudah dirintis Bapak Drs. Abdulah sebanyak 9 kelas untuk kelas 1 sampai kelas 3, karena semakin banyak animo siswa yang akan sekolah di SMA Negeri 1 Prambanan dan semakin adanya kepercayaan kepercayaan dari masyarakat maka pada usianya yang ke 4 SMA Negeri 1 Prambanan menambah 1 kelas setiap tingkatan. Hal ini menuntut sekolah untuk melengkapi sarana sekolah terutama ruang kelas dan tentu saja guru bidang study juga semakin dilengkapi. Ruang kelas sebagai tambahan dibangun yang kini ditmpati kelas XI IPS 2 , XI IPS 3, dan XI IPS 4.
III.1.3 Drs. Nick Kartomo,1992 – 1994SMA Negeri 1 Prambanan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Nick Kartomo, semakin menunjukan dinamika yang semakin pesat banyak keputusan yang ditempuh untuk mempersiapkan sekolah untuk mengubah tipe dari tipe C menjadi Tipe B sehingga harus banyak mempersiapkan sarana yang harus dipenuhi sebagai sekolah Tipe B.
III.1.4 Drs. J Surono Wukir , 1994- 1995Pada masa Kepemimpinan Bapak Drs. J. Surono Wukir tidak banyak perubahan hal ini disebabkan karena pendeknya waktu .
III.1.5 Drs. Ch. Singgih Waluyo, 1995 – 2001.Periode kepemimpinan Bapak Drs. Ch. Singgih Waluyo SMA Negeri 1 Prambanan semakin mendapatkan kepercayaan mayarakat, apalagi setelah memperoleh kepercayaan dari Pemerintah yang memberi penghargaan Tipe B. pada tahun 1995. Dalam memenuhi sarana dan prasarana untuk segera menambah kelas disetiap tingkatan maka dibangunlah ruang kelas yang membujur kebarat disebelah selatan lapangan upacara yang sekarang ditempati ruang kelas X A, XB, XC,XD,XE, XF dan juga ruang labaratorium Biologi serta ruang kelas yang sekarang ditempati III IPA 1 dan III IPA 2.Setelah ruangan sebagai sarana disiapkan maka SMA Negeri 1 Prambanan membuka 6 kelas pararel hingga sekarang SMA Negeri 1 Prambanan sebanyak 18 kelas yang terdiri dari kelas X sebanyak 6 kelas, Kelas XI sebanyak 6 kelas dan kelas III sebanyak 6 kelas.
III.1.6 Drs. Suharyoto, 2001 - 2008Perkembangan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Suharyoto ternyata melanjutkan program sebelumnya dengan menitik beratkan pada peningkatan kwalitas bagi kelulusannya sekaligus memberi bekal siswa didik yang tidak ingin melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi, namun memilih memasuki lapangan kerja.Untuk itu maka dibangunlah ruang ketrampilan baik ruang menjahit maupun ruang computer dengan mendapat dana dari pemerintah yang berupa Block Grant Bis Mutu, Dana tersebut disamping untuk memperbaiki ruangan juga dipakai untuk melengkapi sarana dan prasarana yang digunakan. Pada masa kepemimpinan Bapak Suharyoto juga menggunakan dana komite untuk membangun Rumah jaga, kantor satpam, kantin, sekolah, gapura sekaligus pagar besi depan, ruang ganti pakaian dan tidak ketinggalan serambi Masjid. Kini selayang pandang SMA Negeri 1 Prambanan ini ditulis dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah yang sudah mencapai umur 20 tahun.
III.1.7 Drs. Mawardi Hadisuyitno, 2008 Sampai Sekarang Perkembangan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Mawardi Hadisuyitno saat ini memiliki misi pengembangan dan pemaksimalan mutu serta perbaikan sarana prasarana baik yang berbasis teknologi dan yang tidak.
Sejarah Berdirinya SMA N 1 Prambanan
Pendirian SMA Negeri 1 Prambanan didirikan atas dasar cita-cita yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 khususnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan maka disetiap daerah didirikan sebuah Sekolah Umum Tingkat Atas termasuk wilayah Prambanan.,dengan berdirinya SMA Negeri 1 Prambanan maka semakin lengkap lembaga pendidikan di wilayah kecamatan Prambanan disamping SMK dan SMA Swasta.Hal ini diharapkan semakin mampu mendongkrak kwalitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di wilayah Prambanan.
SMA Negeri 1 Prambanan secara geografis terletak di jalan Prambanan Piyungan., sekitar 4 KM kearah selatan dari Candi Prambanan , tepatnya SMA Negeri 1 Prambanan beralamatkan di dusun Madubaru, Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. SMA Negeri 1 Prambanan juga dikenal masyarakat Prambanan seperti nama dusun yang berdampingan dengan lokasi SMA Negeri 1 Prambanan yaitu dusun Gumuk, maka juga biasa disebut SMA Gumuk.
Perkembangan SMA Negeri 1 Prambanan dapat di lihat dari dekat, semakin memiliki daya tarik tersendiri. Hal ini disebabkan karena dinamika perkembangannya dari tahun ke tahun menunjukan kemajuan yang semakin berarti dan dapat diterima dihati masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Prambanan dan sekitarnya.
Prestasi SMA Negeri 1 Prambanan semakin hari semakin membaik, hal ini dapat dilihat dari hasil kekulusannya yang semakin banyak masuk ke Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, sekaligus semakin banyaknya animo yang akan sekolah di SMA Negeri 1 Prambanan semakin lama semakin banyak. Oleh karena itu Pemerintah menyadari akan perlunya menambah kelas sehingga harus ada perubahan tipe dari tipe C yang membuka 3 atau 4 kelas setiap angkatan menjadi tipe B yang membuka kesempatan 6 kelas setiap angkatan. Hal ini memiliki konsekuwensi dengan menambah tenaga pengajar dan tenaga kerja. Guru dan karyawan semakin tahun bertambah semakin banyak mengikuti perkembangan sekolah yang di sesuaikan dengan kebutuhan, bahkan sampai sekarang masih meminta bantuan guru swata untuk mengabdikan diri di SMA Negeri 1 Prambanan dengan status wiyata bakti, honoer.
Sejarah SMA Negeri 1 Prambanan dapat kita pelajari melalui perkembangannya dari tahap demi tahap yang akan kita uraikan di dalam “SELAYANG PANDANG SMA NEGERI 1 PRAMBANAN”.
Dalam rangka memenuhi kewajiban Pemerintah menyelenggarakan system Pendidikan seperti tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 di seluruh tanah air Indonesia tidak ketinggalan di Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Pada tahun 1985 didirikan sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri Prambanan yang terletak di Dusun Madubaru, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan,Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun sebelum gedung terselesaikan di bangun maka siswa dididik di SMA Negeri 1 Kalasan yang terletak di jalan Jogya Solo, Tepatnya di Dusun Bogem maka masyarakat juga menyebutnya dengan SMA Bogem.
Diawal berdirinya walaupun gedung belum dibangun namun karena sudah mulai menerima siswa sebagai subyek didik maka yang mengajar adalah Guru guru SMA Negeri 1 Kalasan dengan cara Prases belajar-mengajar dilaksanakan pada sore hari. Hal ini didasarkan disamping supaya tidak mengganggu proses belajar-mengajar SMA Negeri 1 Kalasan juga pada sore hari guru SMA Negeri 1 Kalasan bisa meluangkan waktunya untuk mengajar di SMA Negeri 1 Prambanan yang dititipkan di SMA Negeri 1 Kalasan.Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa apabila guru belum ada maka kepala sekolahpun juga belum ada yang menerima Surat tugas. Pada tanggal 1 Januari SMA Negeri 1 Prambanan mulai menerima guru difinitif yang pertama SK pertama sebagai guru adalah Bapak Dalimin yang dengan latar belakang pendidikan D3 jurusan Ekonomi Akutansi dari Universitas Sebelas Maret Solo Jawa tenggah.Bapak Dalimin sebagai penerima SK pertama maka dalam penulisan selayang pandang SMA Negeri 1 Prambanan beliau sebagai nara sumber dan sekaligus sampai sekarang Bapak Dalimin masih aktif mengajar Ekonomi Akutansi di SMA Negeri 1 Prambanan, disamping guru dan karyawan yang lain.
Periodesasi kepemimpinan di SMA Negeri 1 Prambanan :
III.1.1 Drs. Abdullah PW. 1985 - 1987Sebagai Kepala Sekolah pertama di SMA Negeri 1 Prambanan memangku jabatan dari tahun 1985 sampai 1987 dengan jumlah 3 kelas setiap pararel sehingga berjumlah 9 Kelas. Adapun sarana gedung yang sudah tersedia 9 ruang kelas,1 ruang guru, 1 ruang Kepala Sekolah, 1 ruang Tata Usaha dan 1 ruang laboraturium.
III.1.2 Edi Sugiarto 1987 - 1992Pada masa Kepemimpinan Bapak Edi Sugiyarto disamping mempertahankan jumlah kelas yang sudah dirintis Bapak Drs. Abdulah sebanyak 9 kelas untuk kelas 1 sampai kelas 3, karena semakin banyak animo siswa yang akan sekolah di SMA Negeri 1 Prambanan dan semakin adanya kepercayaan kepercayaan dari masyarakat maka pada usianya yang ke 4 SMA Negeri 1 Prambanan menambah 1 kelas setiap tingkatan. Hal ini menuntut sekolah untuk melengkapi sarana sekolah terutama ruang kelas dan tentu saja guru bidang study juga semakin dilengkapi. Ruang kelas sebagai tambahan dibangun yang kini ditmpati kelas XI IPS 2 , XI IPS 3, dan XI IPS 4.
III.1.3 Drs. Nick Kartomo,1992 – 1994SMA Negeri 1 Prambanan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Nick Kartomo, semakin menunjukan dinamika yang semakin pesat banyak keputusan yang ditempuh untuk mempersiapkan sekolah untuk mengubah tipe dari tipe C menjadi Tipe B sehingga harus banyak mempersiapkan sarana yang harus dipenuhi sebagai sekolah Tipe B.
III.1.4 Drs. J Surono Wukir , 1994- 1995Pada masa Kepemimpinan Bapak Drs. J. Surono Wukir tidak banyak perubahan hal ini disebabkan karena pendeknya waktu .
III.1.5 Drs. Ch. Singgih Waluyo, 1995 – 2001.Periode kepemimpinan Bapak Drs. Ch. Singgih Waluyo SMA Negeri 1 Prambanan semakin mendapatkan kepercayaan mayarakat, apalagi setelah memperoleh kepercayaan dari Pemerintah yang memberi penghargaan Tipe B. pada tahun 1995. Dalam memenuhi sarana dan prasarana untuk segera menambah kelas disetiap tingkatan maka dibangunlah ruang kelas yang membujur kebarat disebelah selatan lapangan upacara yang sekarang ditempati ruang kelas X A, XB, XC,XD,XE, XF dan juga ruang labaratorium Biologi serta ruang kelas yang sekarang ditempati III IPA 1 dan III IPA 2.Setelah ruangan sebagai sarana disiapkan maka SMA Negeri 1 Prambanan membuka 6 kelas pararel hingga sekarang SMA Negeri 1 Prambanan sebanyak 18 kelas yang terdiri dari kelas X sebanyak 6 kelas, Kelas XI sebanyak 6 kelas dan kelas III sebanyak 6 kelas.
III.1.6 Drs. Suharyoto, 2001 - 2008Perkembangan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Suharyoto ternyata melanjutkan program sebelumnya dengan menitik beratkan pada peningkatan kwalitas bagi kelulusannya sekaligus memberi bekal siswa didik yang tidak ingin melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi, namun memilih memasuki lapangan kerja.Untuk itu maka dibangunlah ruang ketrampilan baik ruang menjahit maupun ruang computer dengan mendapat dana dari pemerintah yang berupa Block Grant Bis Mutu, Dana tersebut disamping untuk memperbaiki ruangan juga dipakai untuk melengkapi sarana dan prasarana yang digunakan. Pada masa kepemimpinan Bapak Suharyoto juga menggunakan dana komite untuk membangun Rumah jaga, kantor satpam, kantin, sekolah, gapura sekaligus pagar besi depan, ruang ganti pakaian dan tidak ketinggalan serambi Masjid. Kini selayang pandang SMA Negeri 1 Prambanan ini ditulis dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah yang sudah mencapai umur 20 tahun.
III.1.7 Drs. Mawardi Hadisuyitno, 2008 Sampai Sekarang Perkembangan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Mawardi Hadisuyitno saat ini memiliki misi pengembangan dan pemaksimalan mutu serta perbaikan sarana prasarana baik yang berbasis teknologi dan yang tidak.
Senin, 22 September 2008
sekarat
Katamu telah bersaksi
Kenapa hatimu mati?
Kau bilang telah salat
Kenapa runtuh?
Kau perlihatkan telah puasa
Kenapa rapuh?
Kau berkata telah sedekah
Kenapa masih miskin?
Ternyata kau hanya utamakan pelengkap sebagai pembungkus akhir.
Hajimu palsu
Syahadatmu belang
Sholatmu pincang
Puasamu menahan kenyang
Zakatmu selayang pandang
hebat, peci berganti setahun sekali
Ibarat,
Empat sehat
Tak kau santap
Dengan lengkap
Hanya susu yang kau lahap
Kau bilang “biarlah yang empat lewat, terpenting kelima”
Hhhhh, siapa sekarat?
Kenapa hatimu mati?
Kau bilang telah salat
Kenapa runtuh?
Kau perlihatkan telah puasa
Kenapa rapuh?
Kau berkata telah sedekah
Kenapa masih miskin?
Ternyata kau hanya utamakan pelengkap sebagai pembungkus akhir.
Hajimu palsu
Syahadatmu belang
Sholatmu pincang
Puasamu menahan kenyang
Zakatmu selayang pandang
hebat, peci berganti setahun sekali
Ibarat,
Empat sehat
Tak kau santap
Dengan lengkap
Hanya susu yang kau lahap
Kau bilang “biarlah yang empat lewat, terpenting kelima”
Hhhhh, siapa sekarat?
Selasa, 16 September 2008
saksikanlah
meski keringat membuncah
leleran peluh membuat tanah
dari kering menjadi basah
aku tak menyerah
walau badan lelah
pori-piri mengalir darah
mereka pun bilang aku telah payah
aku tak menyerah
sebelum jasad berkalang tanah
sebelum umur dari Tuhan habis jatah
aku tak menyerah
karena aku bukan sampah
leleran peluh membuat tanah
dari kering menjadi basah
aku tak menyerah
walau badan lelah
pori-piri mengalir darah
mereka pun bilang aku telah payah
aku tak menyerah
sebelum jasad berkalang tanah
sebelum umur dari Tuhan habis jatah
aku tak menyerah
karena aku bukan sampah
Rabu, 27 Agustus 2008
Ayu Ibune
Jaman SMA ki pancen wayahe bocah ugal-ugalan. Demen dolanan, demen guyonan. Kadang nyeleneh lan ngguyokke. Apa maneh yen wis kumpul karo kanca, lali madhang, lali turu, apa maneh sinau. Wis, adoh tenan saka pengangen-angen.
Aku karo kanca sing akrab banget. Kanca sak bangku ana kelas. Seka kelas siji tekan kelas telu. Ora tau pisah. Anehe, yen nggolek lungguhan mesti sing mburi dewe. Ndadak, kesenengane kok ya pada. Nonton pelm action. Kui lho, jagoan sing doyan tendang-tendangan, jotos-jotosan, pentung-pentungan, kepara piting-pitingan, uga cokot-cokotan, tur mesti menang.
Kliwon, ngana jenenge kancaku. Asline mono gagah banget, Dwi Kuncoro Langen Jati. Embuh artine apa, pokoke apik tenan dirungokne kuping. Merga kabotan jeneng –jare mbah dukun- njur diganti kliwon. Saka cukur kuncung, dikalungi bawang, nganti sikil digelangi kawat bendrat. Ning ya mari tenan. Aneh. apa dukune sing pancen sekti, apa wong tuane sing goblok, wis rasah di bahas. Jare mbah dukun –jare maneh, pancen enak yen crita nganggo ukara jarene, ora kena disalahke- kuwi mau kanggo syarat kang awujut jimat. Asile saka ruwat. Adus empon-empon malem jumat kliwon.
Ngerti ta empon-empon? Iku, kembang pitung rupa cacahe. Di rendem banyu panas, njur dingo adus tengah wengi.
Kedadean iki tak alami nalika munggah kelas telu. Ya wis mesti saka kelas roro ta, masak kelas siji. Yen kelumpat siji langsung telu, ndak disengeni depdikbud. Aku sak kloron jane mono ya pinter, ra bakalan keteter langsung munggah kelas telu. Ning, ora oleh, mesti wae.
Aku lan kliwon pada dene kaweden utawa jireh yen kudu nyeraki bocah wadon. Ning, kanggo tes mental, aku sak kloron di wanek-wanekke nyoba kenalan karo cewek. Ayu tenan, kuliti putih, rambute potong cendak –ning ora brondhol lho- ndadak anake wong sugih pisan. Wis jan, tantangan abot ki.
Wiwik, arane cah wadon mau. Ndilalah kersanengalah, bocahe ki grapyak, semanak. Njur, pamburine sipat sing enak kuwi mau ndadekna aku lan kliwon salah sangka. Dikirane seneng. Ning durung jelas sapa sing dipilih.
Wis, rasah di jlentrehake. Singkate crita, aku lan kliwon janjian arep teka ana omahe wiwik. Dina minggu, wayah sore bar ashar. Aku sak kloron apel. Gayane manteb tenan. Numpak motor Honda 70 sing sepedo metere mung tekan angka pitung puluh. Operane gigi mung tekan telu. Kelingan ta karo montor iki? Rupane abang, bensine mung amot rong liter setengah.
Kathokku cutbray model kaya sing kerep dingo A-Rafiq –penyanyi dangdut. Sing isa dinggo nyapu ratan yen mlaku. Dene kliwon, clanane model baggy. Iku lho, sing ngisor cuilik, njur bokonge kombor, bokonge katon tepos. Kaose sragam olahraga kelas siji. Rupane putih asline, nig wis dadi semu kuning. Keseringen di pe ana srengenge. Arep nganggo kaos liyane ora nduwe. Jan, kere tenan koq. Ya iki sing ndadekna kurang pedhe yen arep nyeraki cah wadon.
Tekan ngarep lawang, mak jegagik. Sing mbukak jebule dudu wiwik. Ning Kenya ayu kinyis-kinyis, ndadak raine alus banget, alise celaan mlipis, lambene, weleh-weleh. Apa maneh eseme, marai nggeblag temenan. Ngana maneh, ayune katon alami banget. Karo wiwik ora ana miripe babar blas. Apa ya tumon, wiwik turun seka bapakne kabeh?
“kulo nuwun mbak. Badhe kepanggih wiwik, wonten?” ngana basaku mlipis. Jan sopan tenan yen mertamu nggonge wong ayu. Ngalah-ngalahke arep njilih duwit. Beda adoh karo wong nagih utang. Bengis.
“oh, wonten mas, mangga mlebet. Dipun tengga sekedhap kulo celukke”, uedan, suarane empuk temen. Njur, mbalik memburi, tumuju pawon. Wuih, bokonge. Hayoo, aja ngiler.
Aku wis ana feeling, mesti kliwon ora sida ngesir wiwik. “milih mbakyune ki mesti” batin atiku.
Sak wetara di tinggal mamburi, aku wong loro ana ruang tamu. Celingak-celinguk kagum karo ruangan sing apik temata. Sinambo jagongan bisik-bisik.
“yaw is won, kowe wiwik, aku mbakyune” kandaku ora gelem kedhisikan.
“emoh, kowe sing kawit wingi ngebet wiwik koq”
“ora sida wis, nggo kowe wae” aku moh kalah.
“ya wis, manut. Nggo kowe. Wiwik ya ra elek koq. Ning aja mbalela loh ya?” ujare kliwon pasrah. Ning, ndadak nganggo syarat barang. Iku mung isa-isane kliwon wae. Cethane ki, yen di sawang saka prejengan genah kalah bagus karo aku. Aku ya wis modal bensin barang.
Jebule, pas wiwik metu. Lah kok, ana ngomah elik ngene. Ayune mung pas nganggo sragam sekolah. Aku lan kliwon jawil-jawilan. Critane, klowon emoh karo wiwik, pengine mbakyune. Aku semana uga. Ning, perjanjian wis ketok palu. Ora kena di ralat.
Suwe ning suwe, kliwon akrab banget karo wiwik. Aku sengaja jaga jarak, bene klowon ana kesempatan. Soale, yen aku agresif, mesti wiwik milih sing bagus ta? Mesakne kliwon.
Ndilalah, saka crita ngalor ngidul, jebule oh jebule. Mbak-mbak sing mbukak lawang mau dudu mbakyune wiwik. Nanging ibune! Blai tenan.
Oalah won, kliwon. Kok ya apes nemen aku. Ndadak kok ya wiwik uga seneng karo kliwon, minggu ngarep janjian apel maneh. Keconangan banget sak wise aku ngomong “wik, aku oleh dikenalke karo mbakyumu?”
Aku ngakoni wis, yen ruwatan lan ganti jeneng pancen nggawa kabegjan. Aku sesuk ya tak ganti jeneng, dadi pahing. Aku emoh nyeraki mbokne, isa di gorok karo bapakne wiwik mengko.
“wis manak semana gedhene kok ya isih ayu, apa rabine umur sepuluh tahun pa ya?” guyonku karo kliwon, liya wektu.
Aku karo kanca sing akrab banget. Kanca sak bangku ana kelas. Seka kelas siji tekan kelas telu. Ora tau pisah. Anehe, yen nggolek lungguhan mesti sing mburi dewe. Ndadak, kesenengane kok ya pada. Nonton pelm action. Kui lho, jagoan sing doyan tendang-tendangan, jotos-jotosan, pentung-pentungan, kepara piting-pitingan, uga cokot-cokotan, tur mesti menang.
Kliwon, ngana jenenge kancaku. Asline mono gagah banget, Dwi Kuncoro Langen Jati. Embuh artine apa, pokoke apik tenan dirungokne kuping. Merga kabotan jeneng –jare mbah dukun- njur diganti kliwon. Saka cukur kuncung, dikalungi bawang, nganti sikil digelangi kawat bendrat. Ning ya mari tenan. Aneh. apa dukune sing pancen sekti, apa wong tuane sing goblok, wis rasah di bahas. Jare mbah dukun –jare maneh, pancen enak yen crita nganggo ukara jarene, ora kena disalahke- kuwi mau kanggo syarat kang awujut jimat. Asile saka ruwat. Adus empon-empon malem jumat kliwon.
Ngerti ta empon-empon? Iku, kembang pitung rupa cacahe. Di rendem banyu panas, njur dingo adus tengah wengi.
Kedadean iki tak alami nalika munggah kelas telu. Ya wis mesti saka kelas roro ta, masak kelas siji. Yen kelumpat siji langsung telu, ndak disengeni depdikbud. Aku sak kloron jane mono ya pinter, ra bakalan keteter langsung munggah kelas telu. Ning, ora oleh, mesti wae.
Aku lan kliwon pada dene kaweden utawa jireh yen kudu nyeraki bocah wadon. Ning, kanggo tes mental, aku sak kloron di wanek-wanekke nyoba kenalan karo cewek. Ayu tenan, kuliti putih, rambute potong cendak –ning ora brondhol lho- ndadak anake wong sugih pisan. Wis jan, tantangan abot ki.
Wiwik, arane cah wadon mau. Ndilalah kersanengalah, bocahe ki grapyak, semanak. Njur, pamburine sipat sing enak kuwi mau ndadekna aku lan kliwon salah sangka. Dikirane seneng. Ning durung jelas sapa sing dipilih.
Wis, rasah di jlentrehake. Singkate crita, aku lan kliwon janjian arep teka ana omahe wiwik. Dina minggu, wayah sore bar ashar. Aku sak kloron apel. Gayane manteb tenan. Numpak motor Honda 70 sing sepedo metere mung tekan angka pitung puluh. Operane gigi mung tekan telu. Kelingan ta karo montor iki? Rupane abang, bensine mung amot rong liter setengah.
Kathokku cutbray model kaya sing kerep dingo A-Rafiq –penyanyi dangdut. Sing isa dinggo nyapu ratan yen mlaku. Dene kliwon, clanane model baggy. Iku lho, sing ngisor cuilik, njur bokonge kombor, bokonge katon tepos. Kaose sragam olahraga kelas siji. Rupane putih asline, nig wis dadi semu kuning. Keseringen di pe ana srengenge. Arep nganggo kaos liyane ora nduwe. Jan, kere tenan koq. Ya iki sing ndadekna kurang pedhe yen arep nyeraki cah wadon.
Tekan ngarep lawang, mak jegagik. Sing mbukak jebule dudu wiwik. Ning Kenya ayu kinyis-kinyis, ndadak raine alus banget, alise celaan mlipis, lambene, weleh-weleh. Apa maneh eseme, marai nggeblag temenan. Ngana maneh, ayune katon alami banget. Karo wiwik ora ana miripe babar blas. Apa ya tumon, wiwik turun seka bapakne kabeh?
“kulo nuwun mbak. Badhe kepanggih wiwik, wonten?” ngana basaku mlipis. Jan sopan tenan yen mertamu nggonge wong ayu. Ngalah-ngalahke arep njilih duwit. Beda adoh karo wong nagih utang. Bengis.
“oh, wonten mas, mangga mlebet. Dipun tengga sekedhap kulo celukke”, uedan, suarane empuk temen. Njur, mbalik memburi, tumuju pawon. Wuih, bokonge. Hayoo, aja ngiler.
Aku wis ana feeling, mesti kliwon ora sida ngesir wiwik. “milih mbakyune ki mesti” batin atiku.
Sak wetara di tinggal mamburi, aku wong loro ana ruang tamu. Celingak-celinguk kagum karo ruangan sing apik temata. Sinambo jagongan bisik-bisik.
“yaw is won, kowe wiwik, aku mbakyune” kandaku ora gelem kedhisikan.
“emoh, kowe sing kawit wingi ngebet wiwik koq”
“ora sida wis, nggo kowe wae” aku moh kalah.
“ya wis, manut. Nggo kowe. Wiwik ya ra elek koq. Ning aja mbalela loh ya?” ujare kliwon pasrah. Ning, ndadak nganggo syarat barang. Iku mung isa-isane kliwon wae. Cethane ki, yen di sawang saka prejengan genah kalah bagus karo aku. Aku ya wis modal bensin barang.
Jebule, pas wiwik metu. Lah kok, ana ngomah elik ngene. Ayune mung pas nganggo sragam sekolah. Aku lan kliwon jawil-jawilan. Critane, klowon emoh karo wiwik, pengine mbakyune. Aku semana uga. Ning, perjanjian wis ketok palu. Ora kena di ralat.
Suwe ning suwe, kliwon akrab banget karo wiwik. Aku sengaja jaga jarak, bene klowon ana kesempatan. Soale, yen aku agresif, mesti wiwik milih sing bagus ta? Mesakne kliwon.
Ndilalah, saka crita ngalor ngidul, jebule oh jebule. Mbak-mbak sing mbukak lawang mau dudu mbakyune wiwik. Nanging ibune! Blai tenan.
Oalah won, kliwon. Kok ya apes nemen aku. Ndadak kok ya wiwik uga seneng karo kliwon, minggu ngarep janjian apel maneh. Keconangan banget sak wise aku ngomong “wik, aku oleh dikenalke karo mbakyumu?”
Aku ngakoni wis, yen ruwatan lan ganti jeneng pancen nggawa kabegjan. Aku sesuk ya tak ganti jeneng, dadi pahing. Aku emoh nyeraki mbokne, isa di gorok karo bapakne wiwik mengko.
“wis manak semana gedhene kok ya isih ayu, apa rabine umur sepuluh tahun pa ya?” guyonku karo kliwon, liya wektu.
Lingsir wengi
Ana ing wayah ngene, mangsa ketiga. Ngayogyakarta sisih wetan, katon sumringah. Najyan godhong-godhong pada kleleran ana lemah, mobat-mabit kesapu angina. Wit-wit pada mranggas, kayata wanita tanpa busana. Nyeni, elok, edi, peni, kasawang mripat adhem.
Ana ndesa kene, aku wis biasa yen wayah sore, nglaras ana empe omah. Ngrungokke gendhing jawi utawa dangdut koplo. Apa maneh malem minggu ngene. Dhewekan, ora ana sing ngaplei. Jare kanca, rupaku ya ayu. Paling ora, manis lah. Jarene budhe. Nanging, kanca priya durng ana sijio sing nyedhaki. Apa merga aku seneng dhewekan?
Ujare mbokku, aku ini pancen Kenya sing kuper, isinan, lan senengane nyempil ana kamar tinimbang kluyar-kluyur ora ana juntrunge. Priye maneh, aku mung sak drema ngelingi dhawuhe kanjeng nabi. Wanita iku luwih becik ana ngomah, ndak marahi ndadekna pitnah. Merga, aja maneh wangi ambune awak, utawa kemlambehane tangan sing luwes, apa maneh lenggak-lenggok bokong sing goyang ora sengaja yen mlaku. Dene, suaranane wae aurat.
Aku dadi kelingan, tahun-tahun kapengker, wayah isih ana udan. Kanca jaman SMA biyen, nate kebetheng wektu njileh buku. Wayah wis ngarepake surup. Ora tega yen peteng-peteng kudanan, bapak njur ngancani bonah lanang mau ngobrol sinambi ngenteni udan mandeg. Nanging kok suwi, ora terang-terang. Malah kayane ngece, delok rintik, delok grimis, delok maneh byur-byak banyu kaya di sok saka langit.
Wayah semana, bapak njur akon aku supaya ngancani bocah mau. Ya wis, wong loro jagongan. Sinambi dolanan banyu ithir-ithir sing tiba saka tritisan, guyon cilik-cilikan kaselip ana ing antarane geguritan. Ya kuwi, pisan aku rumangsa ngrasakke seneng jagongan karo priya. Ana njero ngomah, bapak ngrungokne kaset Didi Kempot, kumpulan dandut koplo. Pas banget, lagune “Lingsir wengi”. Bapak leyeh-leyeh, merga sedina muput nyambut gawe ana sawah. Macul pari sing wis arep mrekatak.
Eh, ndadak kok aku nduwe pangajab. “ah, mbok iya, udan iki rasah terang. Aku kaya ora lila yen wekti iki cepet entek”, ngana batin atiku. Lah, ya embuh. Wektu kuwi apa sing tak rasakke. Sing mesti, kawit saiki aku ngarep-arep banget anane priya sing wektu iku tak kancani.
Saiki, wis luwih sepuluh tahun. Aku tansah pengin mbaleni krungu lagu kuwi maneh. Nanging, rasane lan swasanane kok wis beda. Priya iku, wis adoh papan dununge. Kabare wae ora nate keprungu. Sing isih ana mung warisan kaset bapak “Lingsir Wengi”.
Lingsir wengi
Sepi durung bisa nendra
Ka goda mring wewayang
Kang nglelidu ati
Nalikane, mung sembrana
Njur kulina…
Ana ndesa kene, aku wis biasa yen wayah sore, nglaras ana empe omah. Ngrungokke gendhing jawi utawa dangdut koplo. Apa maneh malem minggu ngene. Dhewekan, ora ana sing ngaplei. Jare kanca, rupaku ya ayu. Paling ora, manis lah. Jarene budhe. Nanging, kanca priya durng ana sijio sing nyedhaki. Apa merga aku seneng dhewekan?
Ujare mbokku, aku ini pancen Kenya sing kuper, isinan, lan senengane nyempil ana kamar tinimbang kluyar-kluyur ora ana juntrunge. Priye maneh, aku mung sak drema ngelingi dhawuhe kanjeng nabi. Wanita iku luwih becik ana ngomah, ndak marahi ndadekna pitnah. Merga, aja maneh wangi ambune awak, utawa kemlambehane tangan sing luwes, apa maneh lenggak-lenggok bokong sing goyang ora sengaja yen mlaku. Dene, suaranane wae aurat.
Aku dadi kelingan, tahun-tahun kapengker, wayah isih ana udan. Kanca jaman SMA biyen, nate kebetheng wektu njileh buku. Wayah wis ngarepake surup. Ora tega yen peteng-peteng kudanan, bapak njur ngancani bonah lanang mau ngobrol sinambi ngenteni udan mandeg. Nanging kok suwi, ora terang-terang. Malah kayane ngece, delok rintik, delok grimis, delok maneh byur-byak banyu kaya di sok saka langit.
Wayah semana, bapak njur akon aku supaya ngancani bocah mau. Ya wis, wong loro jagongan. Sinambi dolanan banyu ithir-ithir sing tiba saka tritisan, guyon cilik-cilikan kaselip ana ing antarane geguritan. Ya kuwi, pisan aku rumangsa ngrasakke seneng jagongan karo priya. Ana njero ngomah, bapak ngrungokne kaset Didi Kempot, kumpulan dandut koplo. Pas banget, lagune “Lingsir wengi”. Bapak leyeh-leyeh, merga sedina muput nyambut gawe ana sawah. Macul pari sing wis arep mrekatak.
Eh, ndadak kok aku nduwe pangajab. “ah, mbok iya, udan iki rasah terang. Aku kaya ora lila yen wekti iki cepet entek”, ngana batin atiku. Lah, ya embuh. Wektu kuwi apa sing tak rasakke. Sing mesti, kawit saiki aku ngarep-arep banget anane priya sing wektu iku tak kancani.
Saiki, wis luwih sepuluh tahun. Aku tansah pengin mbaleni krungu lagu kuwi maneh. Nanging, rasane lan swasanane kok wis beda. Priya iku, wis adoh papan dununge. Kabare wae ora nate keprungu. Sing isih ana mung warisan kaset bapak “Lingsir Wengi”.
Lingsir wengi
Sepi durung bisa nendra
Ka goda mring wewayang
Kang nglelidu ati
Nalikane, mung sembrana
Njur kulina…
Minggu, 24 Agustus 2008
kereta jawa
ps : Untuk yang gak ngerti bahasa “masa kecilku”, ada translate dalam bahasa Indonesia dalam postingan di blog satunya : http://oyotgatelpalungsalwangga.blogspot.com
Yen wis titi wancine para manungsa
Tumekan pesthene entek kontrake
Jatah umur saka Gusti sing kuwasa
Wis patrape sing arane manungsa
Asipat apik utawi ala
Ling paneling luwih utama
Kejaba ngumbar nepsu angkara murka
Srakah ngudi seneng sak wetara
Lali mring kabegjan sing luwih temata
Rungakna kandaku,
Tanpa guna emas picis raja brana
Sandangan mlipis, ageman sarwo edi busana
Ditinggal kabeh, kejaba selembar gombal putih
Among polahmu sing ndadekna adhem kaya warih
Lakumu kairing udan tangis
Tumpakaanmu kereta jawa
Rodane saka manungsa
Kang arane keranda
Tumuju lemah sing wis tuwa
Ora ana kasur, bantal, guling utawa kemul
Ora ana lawang, cendila utawa bolongan semilir
Sanajyan ngalor, ngidul, ngulon utawa ngetan
Among siji sejatine dalan tumuju
Anggep wae geguritan
Ora ana calon dokter, pilot utawa insinyur
Apa maneh montor mabur
Anane mung siksa kubur
Ditinggalna bojo ayu
Nyenengke wong sing nemu
Ditinggalna banda akeh, sugih brewu
ora bakal dijak mlaku-mlaku
salah kaprah,
anak kadang lan para sedulur penthung-penthungan
cokot-cokotan rebutan warisan
elingana, urip wong sak drema idep
mancik mripat, manis.
Begitu rontok, tiada dilirik
Yen wis titi wancine para manungsa
Tumekan pesthene entek kontrake
Jatah umur saka Gusti sing kuwasa
Wis patrape sing arane manungsa
Asipat apik utawi ala
Ling paneling luwih utama
Kejaba ngumbar nepsu angkara murka
Srakah ngudi seneng sak wetara
Lali mring kabegjan sing luwih temata
Rungakna kandaku,
Tanpa guna emas picis raja brana
Sandangan mlipis, ageman sarwo edi busana
Ditinggal kabeh, kejaba selembar gombal putih
Among polahmu sing ndadekna adhem kaya warih
Lakumu kairing udan tangis
Tumpakaanmu kereta jawa
Rodane saka manungsa
Kang arane keranda
Tumuju lemah sing wis tuwa
Ora ana kasur, bantal, guling utawa kemul
Ora ana lawang, cendila utawa bolongan semilir
Sanajyan ngalor, ngidul, ngulon utawa ngetan
Among siji sejatine dalan tumuju
Anggep wae geguritan
Ora ana calon dokter, pilot utawa insinyur
Apa maneh montor mabur
Anane mung siksa kubur
Ditinggalna bojo ayu
Nyenengke wong sing nemu
Ditinggalna banda akeh, sugih brewu
ora bakal dijak mlaku-mlaku
salah kaprah,
anak kadang lan para sedulur penthung-penthungan
cokot-cokotan rebutan warisan
elingana, urip wong sak drema idep
mancik mripat, manis.
Begitu rontok, tiada dilirik
Jumat, 22 Agustus 2008
babi ngesot
Banyak yang menganggap kekurangan phisik adalah bencana. Ada juga yang menganggap sebagai kelemahan diri. Lebih ekstrim lagi, menjadikannya kebo ijo (kambing hitam sudah punah) untuk membesarkan hati karena tidak kunjung mengukir prestasi. Berkarya, apalagi.
Lain halnya dengan manusia jenis yang satu ini, Raditya Dika. Posturnya pendek ‘kuntet’ justeru menimbulkan daya tarik tersendiri. Meskipun, tidak Cuma sekali dua menjadikannya gagal dalam membina cinta. Disisi lain, kelakuan tengil dan penderitaan yang ditulis dengan gaya ceria, menjadikannya buku humor luar biasa laris.
Satu lagi, karakter usil (kreatif) dibuktikan lewat buku “babi ngesot – datang tak diundang, pulang tak berkutang” telah menembus cetakan keempat bulan juni lalu. Bahkan, dalam satu bulan ‘mei’ telah mengalami dua kali cetak!
“dia lalu menarik baju gue,…., panik habis. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Sayang, epilepsy gue gak bisa dikeluarkan kapanpun gue mau” gaya penulisan yang ‘radit banget’ menghiasi seluruh isi buku ini.
Simak pula cara ia menyapa pembaca “kamu yang disana, selamatkanlah aku, wahai… si buta dari gua hantu”. Asal! (temukan dihalaman 13). Memang, komunikatif sih.
Ada juga pelajaran moral disodorkan (halaman 16), “jika kamu dikerjain senior, kamu tidak perlu lari lebih cepat dari dia. Hanya, lebih cepat dari teman kamu”. Ini, diceritakan Radit saat ospec masa SMA. Buntutnya, dari tiga makhluk unik, satu diantaranya menjadi korban karena ditinggal kabur. Bahaya memang, tradisi cari selamat dengan mengorbankan teman tak luput disodorkan dalam buku ini. Bukan merupakan kekurangan sih, hanya saja rawan jika nantinya menjadi trend pembacanya.
Mengenai kelebihan, urat ketawa bakal terbetot habis saat membaca. Fresh seketika. Tagihan telpon, rekening listrik, cicilan kartu kredit, lupa begitu pegang buku ini.
Tak jarang, dalam angkutan umum seorang pembaca tiba-tiba tertawa ngakak tanpa tahu sebabnya. Penumpang lain pun kaget, ada beberapa yang menempelkan jari telunjuk miring di jidat. Sinting!
Apa yang dikatakan Radit saat menang main Nintendo dengan adik kembarnya? “ayo, cepat hara kiri pakai pensil, biar terhormat!”. Langsung anak kelas tiga SD itu berdiri tegak, ambil posisi baris berbaris dan “hadap kiri grak!”. Saat sampai halaman inilah seorang pembaca kontan menangkupkan buku menutupi wajah. Bahu berguncang, menahan geli. Agaknya malu ketahuan sesama penunggu kereta, ketawa sendirian.
Setengah mati, nahan ketawa baca “babi ngesot”, buku keempat Radit setelah kambing jantan, cinta brontosaurus dan radikus makankakus. Dari mulai gigit bibir (tak sampai berdarah loh), gemeletuk gigi, tahan nafas, sampai pura-pura bersiul. Gagal total! Jangan heran kalau airmata mendadak tumpah –saking geli-, atau juga perut jengah tertawa dari mulai lembar pertama sampai sampul belakang.
Untuk yang lagi dikejar-kejar debt-collector, luangkan sejenak baca buku ini. Bagi yang nunggak cicilan rumah, apalagi. Wajib. Lupakan dengan mengumbar urat ketawa segedhe-gedhenya. Tapi, kalau sampai ada yang sakit perut –bengkeh- tanggung sendiri!
Oh iya, komiknya ada juga beberapa lembar. Disisipi dalam beberapa bab sesuai tema. Lihat gambarnya saja (hal 29 – saat Radit diinjek-injek adiknya) sudah ketawa, apalagi baca. “berat badan Ingga seberat sapi Australia hamil”, demikian tulisannya. Inilah kelebihan lain dari buku humor ini. Tunggu apalagi, segera usir stress anda. Jangan tunggu menggunung, bisa depresi nantinya. Cari babi ngesot di toko buku terdekat! Atau, nunggu ketawa harus bayar pajak?
Judul buku : babi ngesot – datang tak diundang pulang tak berkutang
Penulis : Raditya Dika
Tebal : 237 halaman ( sekali duduk, kelar baca)
Harga : Rp. 32.000,- (tergantung belinya dimana)
Penerbit : bukune, jakarta
Lain halnya dengan manusia jenis yang satu ini, Raditya Dika. Posturnya pendek ‘kuntet’ justeru menimbulkan daya tarik tersendiri. Meskipun, tidak Cuma sekali dua menjadikannya gagal dalam membina cinta. Disisi lain, kelakuan tengil dan penderitaan yang ditulis dengan gaya ceria, menjadikannya buku humor luar biasa laris.
Satu lagi, karakter usil (kreatif) dibuktikan lewat buku “babi ngesot – datang tak diundang, pulang tak berkutang” telah menembus cetakan keempat bulan juni lalu. Bahkan, dalam satu bulan ‘mei’ telah mengalami dua kali cetak!
“dia lalu menarik baju gue,…., panik habis. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Sayang, epilepsy gue gak bisa dikeluarkan kapanpun gue mau” gaya penulisan yang ‘radit banget’ menghiasi seluruh isi buku ini.
Simak pula cara ia menyapa pembaca “kamu yang disana, selamatkanlah aku, wahai… si buta dari gua hantu”. Asal! (temukan dihalaman 13). Memang, komunikatif sih.
Ada juga pelajaran moral disodorkan (halaman 16), “jika kamu dikerjain senior, kamu tidak perlu lari lebih cepat dari dia. Hanya, lebih cepat dari teman kamu”. Ini, diceritakan Radit saat ospec masa SMA. Buntutnya, dari tiga makhluk unik, satu diantaranya menjadi korban karena ditinggal kabur. Bahaya memang, tradisi cari selamat dengan mengorbankan teman tak luput disodorkan dalam buku ini. Bukan merupakan kekurangan sih, hanya saja rawan jika nantinya menjadi trend pembacanya.
Mengenai kelebihan, urat ketawa bakal terbetot habis saat membaca. Fresh seketika. Tagihan telpon, rekening listrik, cicilan kartu kredit, lupa begitu pegang buku ini.
Tak jarang, dalam angkutan umum seorang pembaca tiba-tiba tertawa ngakak tanpa tahu sebabnya. Penumpang lain pun kaget, ada beberapa yang menempelkan jari telunjuk miring di jidat. Sinting!
Apa yang dikatakan Radit saat menang main Nintendo dengan adik kembarnya? “ayo, cepat hara kiri pakai pensil, biar terhormat!”. Langsung anak kelas tiga SD itu berdiri tegak, ambil posisi baris berbaris dan “hadap kiri grak!”. Saat sampai halaman inilah seorang pembaca kontan menangkupkan buku menutupi wajah. Bahu berguncang, menahan geli. Agaknya malu ketahuan sesama penunggu kereta, ketawa sendirian.
Setengah mati, nahan ketawa baca “babi ngesot”, buku keempat Radit setelah kambing jantan, cinta brontosaurus dan radikus makankakus. Dari mulai gigit bibir (tak sampai berdarah loh), gemeletuk gigi, tahan nafas, sampai pura-pura bersiul. Gagal total! Jangan heran kalau airmata mendadak tumpah –saking geli-, atau juga perut jengah tertawa dari mulai lembar pertama sampai sampul belakang.
Untuk yang lagi dikejar-kejar debt-collector, luangkan sejenak baca buku ini. Bagi yang nunggak cicilan rumah, apalagi. Wajib. Lupakan dengan mengumbar urat ketawa segedhe-gedhenya. Tapi, kalau sampai ada yang sakit perut –bengkeh- tanggung sendiri!
Oh iya, komiknya ada juga beberapa lembar. Disisipi dalam beberapa bab sesuai tema. Lihat gambarnya saja (hal 29 – saat Radit diinjek-injek adiknya) sudah ketawa, apalagi baca. “berat badan Ingga seberat sapi Australia hamil”, demikian tulisannya. Inilah kelebihan lain dari buku humor ini. Tunggu apalagi, segera usir stress anda. Jangan tunggu menggunung, bisa depresi nantinya. Cari babi ngesot di toko buku terdekat! Atau, nunggu ketawa harus bayar pajak?
Judul buku : babi ngesot – datang tak diundang pulang tak berkutang
Penulis : Raditya Dika
Tebal : 237 halaman ( sekali duduk, kelar baca)
Harga : Rp. 32.000,- (tergantung belinya dimana)
Penerbit : bukune, jakarta
Selasa, 19 Agustus 2008
kolaborasi
Dua tahun lewat empat bulan, kalender masehi.
Usiamu kini
Membelalakkan hati
Mengundang gundah, sekaligus geli
“Ayah, Rangga sudah bisa rukun islam. Tanyain deh” isteriku setengah berbisik.
Aku bangkit, berlagak seorang guru.
“Rukun islam ada…!” kataku, kemudian setelah itu suara cedal-nya menyahut. Berseling dengan interupsi dariku.
“Ima” (lima)
“Satu” jari telunjukku beraksi.
“adat” (syahadat)
“dua”
“towat” (sholat)
“tiga”
“atat” (zakat)
“empat”
“uata” (puasa)
“lima”
“aek aji a-yang empu! Anda ebaatt…!” (naik haji bagi yang mampu) teriakan setelah kata ini yang membuat aku terbelalak geli –Rangga hebat..!. sungguh, ungkapan rasa percaya diri akan kemampuan “menghafal” ilmu baru”
si kecil itu langsung bangkit, dan menunjuk gambar tempel di tembok. Jejeran huruf hijaiyah dari alif sampai yak, juga anka satu sampai sepuluh dalam huruf arab.
“ayang, ayah uduk. Ni, apa?” (sekarang, ayah duduk. Ini apa?)
“bak”
“ini”
“tak”
“mmm, o wang ini?” (kalau yang ini?)
“yak”
“inteng….” (pinter…)
Aku tersenyum geli memerankan drama sebabak itu. Sore itu begitu indah, hawa sejuk meresap. Terimakasih isteriku, engkau telah mendidik buah hati kita dengan baik. Tak kan pernah kulupakan moment ini. sepulang kantor hari-hari berikutnya, aku akan rajin menanyakan rukun iman, lafadz syahadat, hafalan fatihah, dan...dan... Ah, ternyata ku begitu banyak berharap. salahkah?
Rangga, telah bisa mendikte ayahnya. Dan, setelah apa yang ia tunjuk semuanya terjawab dengan benar olehku, tak lupa si kecil itu memberikan apresiasi kepada ayahnya dengan kata “pinter….”.
Ingatan akan sebuah moment keindahan, terkadang tertuang dalam tulisan tak seindah apa yang kurasakan. Karena aku bukan punjangga, tentu saja. Biarkan, hanya aku yang meresapi makna dan bahagia dibalik coretan kali ini. Bersama bisunya segenggam harapan yang tak seorangpun tahu.
Usiamu kini
Membelalakkan hati
Mengundang gundah, sekaligus geli
“Ayah, Rangga sudah bisa rukun islam. Tanyain deh” isteriku setengah berbisik.
Aku bangkit, berlagak seorang guru.
“Rukun islam ada…!” kataku, kemudian setelah itu suara cedal-nya menyahut. Berseling dengan interupsi dariku.
“Ima” (lima)
“Satu” jari telunjukku beraksi.
“adat” (syahadat)
“dua”
“towat” (sholat)
“tiga”
“atat” (zakat)
“empat”
“uata” (puasa)
“lima”
“aek aji a-yang empu! Anda ebaatt…!” (naik haji bagi yang mampu) teriakan setelah kata ini yang membuat aku terbelalak geli –Rangga hebat..!. sungguh, ungkapan rasa percaya diri akan kemampuan “menghafal” ilmu baru”
si kecil itu langsung bangkit, dan menunjuk gambar tempel di tembok. Jejeran huruf hijaiyah dari alif sampai yak, juga anka satu sampai sepuluh dalam huruf arab.
“ayang, ayah uduk. Ni, apa?” (sekarang, ayah duduk. Ini apa?)
“bak”
“ini”
“tak”
“mmm, o wang ini?” (kalau yang ini?)
“yak”
“inteng….” (pinter…)
Aku tersenyum geli memerankan drama sebabak itu. Sore itu begitu indah, hawa sejuk meresap. Terimakasih isteriku, engkau telah mendidik buah hati kita dengan baik. Tak kan pernah kulupakan moment ini. sepulang kantor hari-hari berikutnya, aku akan rajin menanyakan rukun iman, lafadz syahadat, hafalan fatihah, dan...dan... Ah, ternyata ku begitu banyak berharap. salahkah?
Rangga, telah bisa mendikte ayahnya. Dan, setelah apa yang ia tunjuk semuanya terjawab dengan benar olehku, tak lupa si kecil itu memberikan apresiasi kepada ayahnya dengan kata “pinter….”.
Ingatan akan sebuah moment keindahan, terkadang tertuang dalam tulisan tak seindah apa yang kurasakan. Karena aku bukan punjangga, tentu saja. Biarkan, hanya aku yang meresapi makna dan bahagia dibalik coretan kali ini. Bersama bisunya segenggam harapan yang tak seorangpun tahu.
Selasa, 12 Agustus 2008
ndleming wayah panjer-rina
Cangkem tanpa kemucap
Mbako tak sebul
Pega gumulung ngebaki tutuk
Sinawang mega klamat
Nutupi langit semu semburat
Wayah sore
Ngawe-awe
Oalah mbakyu,
Wewayangmu
Kok le nglelidu
Manjing ana bathuk tanpa gumuyu
Kaya diyan senthir
Mobat-mabit
Kedamu mring sumilir
Kangenku ra nguwati
Nanging, piye maneh
Dudu rupa,
Dudu bandha,
Ujarmu marang aku
Mung cukup emas raja brana,
penjalukmu
Blae…
Wuyung,
Pancen mandraguna.
Ya wis,
Aku tak nglaras “lingsir wengi”ne Didi Kempot
Sinambi leyeh-leyeh, ndleming sak karepku dhewe.
Ana ing wayah panjer rina ngene.
Mbako tak sebul
Pega gumulung ngebaki tutuk
Sinawang mega klamat
Nutupi langit semu semburat
Wayah sore
Ngawe-awe
Oalah mbakyu,
Wewayangmu
Kok le nglelidu
Manjing ana bathuk tanpa gumuyu
Kaya diyan senthir
Mobat-mabit
Kedamu mring sumilir
Kangenku ra nguwati
Nanging, piye maneh
Dudu rupa,
Dudu bandha,
Ujarmu marang aku
Mung cukup emas raja brana,
penjalukmu
Blae…
Wuyung,
Pancen mandraguna.
Ya wis,
Aku tak nglaras “lingsir wengi”ne Didi Kempot
Sinambi leyeh-leyeh, ndleming sak karepku dhewe.
Ana ing wayah panjer rina ngene.
Senin, 14 Juli 2008
jancux
pergi kau,
enyah
jangan bawa bahagiaku.
ini gembiraku,
kenapa selalu ada padamu
ini nestapaku,
kenapa bukan ini yang kau ambil
goblok
bahagiaku, selalu kau bawa?
enyah
jangan bawa bahagiaku.
ini gembiraku,
kenapa selalu ada padamu
ini nestapaku,
kenapa bukan ini yang kau ambil
goblok
bahagiaku, selalu kau bawa?
maling
kamu maling
dia seperti kamu
mereka seperti dia
aku seperti mereka
aku maling?
aku merasa, bangun tidur terus bekerja
akhir bulan dapat gaji.
dari gaji, aku beli beras. makan.
maling?
apa yang aku curi?
oh, kini aku tahu.
bukan apa dan siapa yang aku curi
diriku sendirilah yang selalu kehilangan.
kehilangan jati diri sebagai seorang "abdi".
dia seperti kamu
mereka seperti dia
aku seperti mereka
aku maling?
aku merasa, bangun tidur terus bekerja
akhir bulan dapat gaji.
dari gaji, aku beli beras. makan.
maling?
apa yang aku curi?
oh, kini aku tahu.
bukan apa dan siapa yang aku curi
diriku sendirilah yang selalu kehilangan.
kehilangan jati diri sebagai seorang "abdi".
Langganan:
Postingan (Atom)