Banyak yang menganggap kekurangan phisik adalah bencana. Ada juga yang menganggap sebagai kelemahan diri. Lebih ekstrim lagi, menjadikannya kebo ijo (kambing hitam sudah punah) untuk membesarkan hati karena tidak kunjung mengukir prestasi. Berkarya, apalagi.
Lain halnya dengan manusia jenis yang satu ini, Raditya Dika. Posturnya pendek ‘kuntet’ justeru menimbulkan daya tarik tersendiri. Meskipun, tidak Cuma sekali dua menjadikannya gagal dalam membina cinta. Disisi lain, kelakuan tengil dan penderitaan yang ditulis dengan gaya ceria, menjadikannya buku humor luar biasa laris.
Satu lagi, karakter usil (kreatif) dibuktikan lewat buku “babi ngesot – datang tak diundang, pulang tak berkutang” telah menembus cetakan keempat bulan juni lalu. Bahkan, dalam satu bulan ‘mei’ telah mengalami dua kali cetak!
“dia lalu menarik baju gue,…., panik habis. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Sayang, epilepsy gue gak bisa dikeluarkan kapanpun gue mau” gaya penulisan yang ‘radit banget’ menghiasi seluruh isi buku ini.
Simak pula cara ia menyapa pembaca “kamu yang disana, selamatkanlah aku, wahai… si buta dari gua hantu”. Asal! (temukan dihalaman 13). Memang, komunikatif sih.
Ada juga pelajaran moral disodorkan (halaman 16), “jika kamu dikerjain senior, kamu tidak perlu lari lebih cepat dari dia. Hanya, lebih cepat dari teman kamu”. Ini, diceritakan Radit saat ospec masa SMA. Buntutnya, dari tiga makhluk unik, satu diantaranya menjadi korban karena ditinggal kabur. Bahaya memang, tradisi cari selamat dengan mengorbankan teman tak luput disodorkan dalam buku ini. Bukan merupakan kekurangan sih, hanya saja rawan jika nantinya menjadi trend pembacanya.
Mengenai kelebihan, urat ketawa bakal terbetot habis saat membaca. Fresh seketika. Tagihan telpon, rekening listrik, cicilan kartu kredit, lupa begitu pegang buku ini.
Tak jarang, dalam angkutan umum seorang pembaca tiba-tiba tertawa ngakak tanpa tahu sebabnya. Penumpang lain pun kaget, ada beberapa yang menempelkan jari telunjuk miring di jidat. Sinting!
Apa yang dikatakan Radit saat menang main Nintendo dengan adik kembarnya? “ayo, cepat hara kiri pakai pensil, biar terhormat!”. Langsung anak kelas tiga SD itu berdiri tegak, ambil posisi baris berbaris dan “hadap kiri grak!”. Saat sampai halaman inilah seorang pembaca kontan menangkupkan buku menutupi wajah. Bahu berguncang, menahan geli. Agaknya malu ketahuan sesama penunggu kereta, ketawa sendirian.
Setengah mati, nahan ketawa baca “babi ngesot”, buku keempat Radit setelah kambing jantan, cinta brontosaurus dan radikus makankakus. Dari mulai gigit bibir (tak sampai berdarah loh), gemeletuk gigi, tahan nafas, sampai pura-pura bersiul. Gagal total! Jangan heran kalau airmata mendadak tumpah –saking geli-, atau juga perut jengah tertawa dari mulai lembar pertama sampai sampul belakang.
Untuk yang lagi dikejar-kejar debt-collector, luangkan sejenak baca buku ini. Bagi yang nunggak cicilan rumah, apalagi. Wajib. Lupakan dengan mengumbar urat ketawa segedhe-gedhenya. Tapi, kalau sampai ada yang sakit perut –bengkeh- tanggung sendiri!
Oh iya, komiknya ada juga beberapa lembar. Disisipi dalam beberapa bab sesuai tema. Lihat gambarnya saja (hal 29 – saat Radit diinjek-injek adiknya) sudah ketawa, apalagi baca. “berat badan Ingga seberat sapi Australia hamil”, demikian tulisannya. Inilah kelebihan lain dari buku humor ini. Tunggu apalagi, segera usir stress anda. Jangan tunggu menggunung, bisa depresi nantinya. Cari babi ngesot di toko buku terdekat! Atau, nunggu ketawa harus bayar pajak?
Judul buku : babi ngesot – datang tak diundang pulang tak berkutang
Penulis : Raditya Dika
Tebal : 237 halaman ( sekali duduk, kelar baca)
Harga : Rp. 32.000,- (tergantung belinya dimana)
Penerbit : bukune, jakarta
Jumat, 22 Agustus 2008
Selasa, 19 Agustus 2008
kolaborasi
Dua tahun lewat empat bulan, kalender masehi.
Usiamu kini
Membelalakkan hati
Mengundang gundah, sekaligus geli
“Ayah, Rangga sudah bisa rukun islam. Tanyain deh” isteriku setengah berbisik.
Aku bangkit, berlagak seorang guru.
“Rukun islam ada…!” kataku, kemudian setelah itu suara cedal-nya menyahut. Berseling dengan interupsi dariku.
“Ima” (lima)
“Satu” jari telunjukku beraksi.
“adat” (syahadat)
“dua”
“towat” (sholat)
“tiga”
“atat” (zakat)
“empat”
“uata” (puasa)
“lima”
“aek aji a-yang empu! Anda ebaatt…!” (naik haji bagi yang mampu) teriakan setelah kata ini yang membuat aku terbelalak geli –Rangga hebat..!. sungguh, ungkapan rasa percaya diri akan kemampuan “menghafal” ilmu baru”
si kecil itu langsung bangkit, dan menunjuk gambar tempel di tembok. Jejeran huruf hijaiyah dari alif sampai yak, juga anka satu sampai sepuluh dalam huruf arab.
“ayang, ayah uduk. Ni, apa?” (sekarang, ayah duduk. Ini apa?)
“bak”
“ini”
“tak”
“mmm, o wang ini?” (kalau yang ini?)
“yak”
“inteng….” (pinter…)
Aku tersenyum geli memerankan drama sebabak itu. Sore itu begitu indah, hawa sejuk meresap. Terimakasih isteriku, engkau telah mendidik buah hati kita dengan baik. Tak kan pernah kulupakan moment ini. sepulang kantor hari-hari berikutnya, aku akan rajin menanyakan rukun iman, lafadz syahadat, hafalan fatihah, dan...dan... Ah, ternyata ku begitu banyak berharap. salahkah?
Rangga, telah bisa mendikte ayahnya. Dan, setelah apa yang ia tunjuk semuanya terjawab dengan benar olehku, tak lupa si kecil itu memberikan apresiasi kepada ayahnya dengan kata “pinter….”.
Ingatan akan sebuah moment keindahan, terkadang tertuang dalam tulisan tak seindah apa yang kurasakan. Karena aku bukan punjangga, tentu saja. Biarkan, hanya aku yang meresapi makna dan bahagia dibalik coretan kali ini. Bersama bisunya segenggam harapan yang tak seorangpun tahu.
Usiamu kini
Membelalakkan hati
Mengundang gundah, sekaligus geli
“Ayah, Rangga sudah bisa rukun islam. Tanyain deh” isteriku setengah berbisik.
Aku bangkit, berlagak seorang guru.
“Rukun islam ada…!” kataku, kemudian setelah itu suara cedal-nya menyahut. Berseling dengan interupsi dariku.
“Ima” (lima)
“Satu” jari telunjukku beraksi.
“adat” (syahadat)
“dua”
“towat” (sholat)
“tiga”
“atat” (zakat)
“empat”
“uata” (puasa)
“lima”
“aek aji a-yang empu! Anda ebaatt…!” (naik haji bagi yang mampu) teriakan setelah kata ini yang membuat aku terbelalak geli –Rangga hebat..!. sungguh, ungkapan rasa percaya diri akan kemampuan “menghafal” ilmu baru”
si kecil itu langsung bangkit, dan menunjuk gambar tempel di tembok. Jejeran huruf hijaiyah dari alif sampai yak, juga anka satu sampai sepuluh dalam huruf arab.
“ayang, ayah uduk. Ni, apa?” (sekarang, ayah duduk. Ini apa?)
“bak”
“ini”
“tak”
“mmm, o wang ini?” (kalau yang ini?)
“yak”
“inteng….” (pinter…)
Aku tersenyum geli memerankan drama sebabak itu. Sore itu begitu indah, hawa sejuk meresap. Terimakasih isteriku, engkau telah mendidik buah hati kita dengan baik. Tak kan pernah kulupakan moment ini. sepulang kantor hari-hari berikutnya, aku akan rajin menanyakan rukun iman, lafadz syahadat, hafalan fatihah, dan...dan... Ah, ternyata ku begitu banyak berharap. salahkah?
Rangga, telah bisa mendikte ayahnya. Dan, setelah apa yang ia tunjuk semuanya terjawab dengan benar olehku, tak lupa si kecil itu memberikan apresiasi kepada ayahnya dengan kata “pinter….”.
Ingatan akan sebuah moment keindahan, terkadang tertuang dalam tulisan tak seindah apa yang kurasakan. Karena aku bukan punjangga, tentu saja. Biarkan, hanya aku yang meresapi makna dan bahagia dibalik coretan kali ini. Bersama bisunya segenggam harapan yang tak seorangpun tahu.
Selasa, 12 Agustus 2008
ndleming wayah panjer-rina
Cangkem tanpa kemucap
Mbako tak sebul
Pega gumulung ngebaki tutuk
Sinawang mega klamat
Nutupi langit semu semburat
Wayah sore
Ngawe-awe
Oalah mbakyu,
Wewayangmu
Kok le nglelidu
Manjing ana bathuk tanpa gumuyu
Kaya diyan senthir
Mobat-mabit
Kedamu mring sumilir
Kangenku ra nguwati
Nanging, piye maneh
Dudu rupa,
Dudu bandha,
Ujarmu marang aku
Mung cukup emas raja brana,
penjalukmu
Blae…
Wuyung,
Pancen mandraguna.
Ya wis,
Aku tak nglaras “lingsir wengi”ne Didi Kempot
Sinambi leyeh-leyeh, ndleming sak karepku dhewe.
Ana ing wayah panjer rina ngene.
Mbako tak sebul
Pega gumulung ngebaki tutuk
Sinawang mega klamat
Nutupi langit semu semburat
Wayah sore
Ngawe-awe
Oalah mbakyu,
Wewayangmu
Kok le nglelidu
Manjing ana bathuk tanpa gumuyu
Kaya diyan senthir
Mobat-mabit
Kedamu mring sumilir
Kangenku ra nguwati
Nanging, piye maneh
Dudu rupa,
Dudu bandha,
Ujarmu marang aku
Mung cukup emas raja brana,
penjalukmu
Blae…
Wuyung,
Pancen mandraguna.
Ya wis,
Aku tak nglaras “lingsir wengi”ne Didi Kempot
Sinambi leyeh-leyeh, ndleming sak karepku dhewe.
Ana ing wayah panjer rina ngene.
Senin, 14 Juli 2008
jancux
pergi kau,
enyah
jangan bawa bahagiaku.
ini gembiraku,
kenapa selalu ada padamu
ini nestapaku,
kenapa bukan ini yang kau ambil
goblok
bahagiaku, selalu kau bawa?
enyah
jangan bawa bahagiaku.
ini gembiraku,
kenapa selalu ada padamu
ini nestapaku,
kenapa bukan ini yang kau ambil
goblok
bahagiaku, selalu kau bawa?
maling
kamu maling
dia seperti kamu
mereka seperti dia
aku seperti mereka
aku maling?
aku merasa, bangun tidur terus bekerja
akhir bulan dapat gaji.
dari gaji, aku beli beras. makan.
maling?
apa yang aku curi?
oh, kini aku tahu.
bukan apa dan siapa yang aku curi
diriku sendirilah yang selalu kehilangan.
kehilangan jati diri sebagai seorang "abdi".
dia seperti kamu
mereka seperti dia
aku seperti mereka
aku maling?
aku merasa, bangun tidur terus bekerja
akhir bulan dapat gaji.
dari gaji, aku beli beras. makan.
maling?
apa yang aku curi?
oh, kini aku tahu.
bukan apa dan siapa yang aku curi
diriku sendirilah yang selalu kehilangan.
kehilangan jati diri sebagai seorang "abdi".
Senin, 07 Juli 2008
wajah dalam baskom
hidung besar
kuping lebar
mata jereng setengah lingkar
hidungku kenyang menghirup kenistaan
kupingku penuh suara kedukaan
mataku nanar setiap saat oleh penderitaan
apalagi yang harus ku serap?
kuping lebar
mata jereng setengah lingkar
hidungku kenyang menghirup kenistaan
kupingku penuh suara kedukaan
mataku nanar setiap saat oleh penderitaan
apalagi yang harus ku serap?
Selasa, 27 Mei 2008
Iklan TV sarana Kembali ke Indonesia Raya
Judul : Iklan TV sarana Kembali ke Indonesia Raya
Tema : 100 tahun kebangkitan bangsa
Oleh : Salwangga
Untuk dikirim ke : lomba@menulismudah.com.
Ada seorang mahasiswa dibawa ke rumah-sakit. Katanya habis demo tertimpuk batu dari aparat. Saat menyadari kepalanya dibebat, ia tersenyum bangga "aku telah berbuat heroik untuk membela kepentingan rakyat miskin", batinnya. Tapi saat melihat lututnya pecah, ia meraung-raung menggemparkan seisi ruang. Tak luput suster penjaga kalang kabut bergegas menghampiri. "lututku telah hancur, dimana lagi akan kutaruh otakku" jeritnya pilu. Suster penjaga hanya tersenyum tak berani bersuara "pantas saja demo kalian selalu anarkis, mengundang kemacetan. Ternyata otak kalian di dengkul toch".
Beberapa puluh tahun silam, seorang anak bangsa Wage Rudolf Supratman begitu yakin dengan pikirannya tertuang dalam bait-bait lagu. Tidak banyak berpengaruh jika hanya badan saja yang bangkit. Jiwa yang lebih utama. Baru kemudian badan.
"Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya"
WR Supratman hanyalah satu dari sekian pemuda yang telah merintis (menyumbangkan) kreasinya untuk lahirnya Indonesia Raya. 1945 merupakan tonggak sejarah yang tidak mungkin dielakkan lagi. 37 tahun sebelum proklamasi hari kemerdekaan, kaum terpelajar telah mulai merintis kebebasan berbangsa melalui lobi-lobi internasional melalui perundingan-perundingan dengan pihak luar negeri. Jago-jago diplomasi saat itu seperti DR Wahidin Sudiro Husodo, DR Sutomo, Sudarpo, dan lain-lainnya, para pemuda berusia masih berkisar 30 tahun telah demikian kuat dalam berprinsip sesuai karakter masing-masing.
Kesempatan mengecam pendidikan setaraf HIS MULO maupun STOVIA benar-benar dimanfaatkan untuk menimba ilmu menempa diri. Itulah saat titik balik sejarah bermulanya kebangkitan nasional.
Lain dulu lain pula zaman sekarang. Bagaimanapun juga jalur diplomasi dan intelektualitas lebih dapat mencuri perhatian bangsa-bangsa di dunia. Dari pada sekedar demo berujung tindakan anarkis tak berkonsep. Spontanitas, mengendepankan urat daripada pikiran. Jauh dari kesan intelek.
Hasil gemblengan para pemuda pelopor perjuangan berbasis intelektualitas sejak tahun 1908, selama 37 tahun kemudian terbukti melahirkan "proklamasi kemerdekaan" dan mendapatkan pengakuan dunia internasional secara de facto maupun de juro. Bung Karno dan Bung Hatta, dua negarawan besar negeri ini harus mengakui kecerdasan para pemuda dalam mencetuskan pemikiran melepaskan diri dari belenggu penjajah.
Kini, tahun 2008, berbilang 100 tahun hari kebangkitan nasional, seyogianya menjadi titik balik kebangkitan kembali. Tidak mungkin secepat mengedipkan mata memang. Di depan kita begitu nyata masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Kalau saja negeri dongeng cukuplah mengusap lampu wasiat, dilanjutkan tiga permintaan, tentulah dalam sekejap mata jin sakti langsung mengubah keadaan.
Media televisi, sangat memungkinkan untuk mendongkrak pemikiran-pemikiran pemirsa. Menyebarkan kembali Visi dan Misi Bangsa. Gunakan media penyiaran untuk mencerdaskan anak bangsa. Berawal dari sekarang, 1 abad peringatan hari kebangkitan Nasional, anak-anak dan pemuda 20 atau 30 tahun mendatang pastilah merdeka jiwanya, merdeka pikirannya untuk kemudian bangkit jiwa dan raga secara lebih berarti menuju "The Real" Indonesia Raya. Sebagaimana harapan WR Supratman telah torehkan dalam bait syair lagu kebangsaan.
Tak usahlah terlalu cepat berharap dengan mengandalkan mahasiswa saat ini, apalagi para pemimpin negeri yang semakin tua. Nyata-nyata kaum intelektual malah lebih mengedepankan demo tak bermutu untuk menunjukkan eksistensi. Berikan kesempatan lebih kepada generasi muda untuk menunjukkan kredibilitas. Sudah saatnya angkatan tua menjadi korektor dan pembimbing. Lebih fokus menjadi Kreator, Konseptor. Relakan kaum muda menjadi Eksekutor, lebih menunjukkan eksistensi diri dalam rel dan pengawasan angkatan tua.
Mengenang beberapa tahun silam DR Sutomo CS, setelah demo langsung mengumpulkan para rekan untuk membicarakan konsep diplomasi lebih lanjut akan ditempuh dengan penuh semangat nasionalisme. Mahasiswa sekarang ? sehabis demo dengan atribut pengikat kepala masih basah oleh keringat nongkrong dipinggir jalan parkir seenaknya, merokok dengan gagah sambil berhaha-hihi, lupa pada apa yang barusaja mereka demokan. Kepentingan rakyat miskin menjadi pembungkus manis mentalitas anarkis.
Endapkan masa lalu, konsentrasi pada masa kini. Godok dan siapkan mental (jiwa) anak-anak & pemuda untuk menuju 20 tahun mendatang benar-benar merdeka. Merdeka berkreatifitas, berkarya, berinovasi & berimprovisasi berbasis intelektualitas membangun negeri.
Bangkitlah para pemuda. Kobarkan kembali semangat berbangsa dan bernegara. Pemuda harapan bangsa. Ingatlah selalu pesan proklamator kita "kutitipkan bangsa dan negara kepadamu". Ditambahkan lagi oleh beliau betapa bangganya pada kaum muda "berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia".
Satu iklan pada media televisi sangat menarik perhatian. Dedy Mizwar. Resapi ucapan berikut saya coba kutip dari iklan non-komersiil 100 tahun kebangkitan bangsa :
"bangkit itu, susah.
Susah melihat orang yang susah, senang melihat orang yang senang.
Bangkit itu, takut.
Takut korupsi, takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu, mencuri.
Mencuri perhatian dunia dengan mengukir prestasi.
Bangkit itu, marah.
Marah martabat bangsa dilecehkan. Diinjak-injak.
Bangkit itu, malu.
Malu jadi benalu. Malu hanya minta melulu.
Bangkit itu, tidak ada.
Tidak ada kata menyerah. Tidak ada kata putus asa.
Bangkit itu, aku.
Untuk Indonesia"
Iklan menggugah kesadaran berbangsa, penuh spirit. Nuansa mistik beraroma kebangkitan rasa begitu kental dikemas apik dibawakan dengan tajam oleh sang aktor. Sudah saatnya konsep iklan komersial pertelevisian diubah. Bagaimanapun juga media televisi sangat mendominasi menjadi konsumsi wajib bagi sebagian besar masyarakat. Tantangan terbesar dihadapi saat ini adalah, pemerataan pendidikan. Terutama aplikasi atau hasil/target yang hendak diperoleh.
Rakyat miskin yang sering dikategorikan sebagai kaum marginal boeh jadi tidak mengecam pendidikan tinggi, tapi jelas. Mereka sangat mengenal acara TV. Bahkan nyaris lebih banyak nongkrong di depan TV bisa menghabiskan 4 – 5 jam rata-rata orang perhari.
Gunakan media iklan bukan hanya untuk target profit secara komersial, tetapi lebih dikolaborasikan dengan menebarkan semangat kebangsaan dan kepedulian. setiap hari bahkan setiap jam sekali seluruh saluran TV swasta diwajibkan menyiarkan iklan kebangkitan bangsa. Lambat laun secara perlahan pasti menyerusup relung hati masyarakat luas sehingga terpateri semangat kebersamaan berbangsa dan bernegara. Bagaimanapun juga, sesuatu yang dilakukan secara terus menerus hasilnya lebih bisa terarah daripada secara besar-besaran tetapi hanya setahun sekali.
Indosat misalnya, telah memulai dengan iklan versi terbaru "Indosat Cinta Indonesia". Sangat dibutuhkan iklan-iklan inspiratif sejenis untuk mendongkrak kembali semangat kebangkitan demi mencapai kejayaan Indonesia Raya.
Mengutip pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang yudoyono saat memperingati satu abad memperingati hari kebangkitan nasional di senayan "bersama ktia bisa membangun kemali Indonesia" bahkan pekik "Indonesia…. Bisa!, Indonesia… Bisa!, Indonesia … Bisa!". Begitu semangat dan gegap gempita Bapak Presiden menyemangati seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kebersamaan.
Mahasiswa jangan sampai terjebak sikap reaksionis dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tunjukkan keberadaan mahasiswa dengan karya yang mencerminkan intelektualitas sejati. Skripsi, tesis, maupun disertasi dibuat bukan hanya untuk memenuhi syarat kelulusan belaka. Sebarkan, agar dapat dimanfaatkan untuk membangun negeri. Aparat keamanan jangan lagi terpancing propaganda sebagian kecil kaum muda. Mereka hanya butuh bimbingan dan pengertian. Kembalilah berfungsi sebagai pengaman, bukan menambah kacau keadaan.
Bangkitlah kaum muda, inteleklah kaum mahasiswa. Pemuda adalah harapan bangsa.
Tema : 100 tahun kebangkitan bangsa
Oleh : Salwangga
Untuk dikirim ke : lomba@menulismudah.com.
Ada seorang mahasiswa dibawa ke rumah-sakit. Katanya habis demo tertimpuk batu dari aparat. Saat menyadari kepalanya dibebat, ia tersenyum bangga "aku telah berbuat heroik untuk membela kepentingan rakyat miskin", batinnya. Tapi saat melihat lututnya pecah, ia meraung-raung menggemparkan seisi ruang. Tak luput suster penjaga kalang kabut bergegas menghampiri. "lututku telah hancur, dimana lagi akan kutaruh otakku" jeritnya pilu. Suster penjaga hanya tersenyum tak berani bersuara "pantas saja demo kalian selalu anarkis, mengundang kemacetan. Ternyata otak kalian di dengkul toch".
Beberapa puluh tahun silam, seorang anak bangsa Wage Rudolf Supratman begitu yakin dengan pikirannya tertuang dalam bait-bait lagu. Tidak banyak berpengaruh jika hanya badan saja yang bangkit. Jiwa yang lebih utama. Baru kemudian badan.
"Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya"
WR Supratman hanyalah satu dari sekian pemuda yang telah merintis (menyumbangkan) kreasinya untuk lahirnya Indonesia Raya. 1945 merupakan tonggak sejarah yang tidak mungkin dielakkan lagi. 37 tahun sebelum proklamasi hari kemerdekaan, kaum terpelajar telah mulai merintis kebebasan berbangsa melalui lobi-lobi internasional melalui perundingan-perundingan dengan pihak luar negeri. Jago-jago diplomasi saat itu seperti DR Wahidin Sudiro Husodo, DR Sutomo, Sudarpo, dan lain-lainnya, para pemuda berusia masih berkisar 30 tahun telah demikian kuat dalam berprinsip sesuai karakter masing-masing.
Kesempatan mengecam pendidikan setaraf HIS MULO maupun STOVIA benar-benar dimanfaatkan untuk menimba ilmu menempa diri. Itulah saat titik balik sejarah bermulanya kebangkitan nasional.
Lain dulu lain pula zaman sekarang. Bagaimanapun juga jalur diplomasi dan intelektualitas lebih dapat mencuri perhatian bangsa-bangsa di dunia. Dari pada sekedar demo berujung tindakan anarkis tak berkonsep. Spontanitas, mengendepankan urat daripada pikiran. Jauh dari kesan intelek.
Hasil gemblengan para pemuda pelopor perjuangan berbasis intelektualitas sejak tahun 1908, selama 37 tahun kemudian terbukti melahirkan "proklamasi kemerdekaan" dan mendapatkan pengakuan dunia internasional secara de facto maupun de juro. Bung Karno dan Bung Hatta, dua negarawan besar negeri ini harus mengakui kecerdasan para pemuda dalam mencetuskan pemikiran melepaskan diri dari belenggu penjajah.
Kini, tahun 2008, berbilang 100 tahun hari kebangkitan nasional, seyogianya menjadi titik balik kebangkitan kembali. Tidak mungkin secepat mengedipkan mata memang. Di depan kita begitu nyata masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Kalau saja negeri dongeng cukuplah mengusap lampu wasiat, dilanjutkan tiga permintaan, tentulah dalam sekejap mata jin sakti langsung mengubah keadaan.
Media televisi, sangat memungkinkan untuk mendongkrak pemikiran-pemikiran pemirsa. Menyebarkan kembali Visi dan Misi Bangsa. Gunakan media penyiaran untuk mencerdaskan anak bangsa. Berawal dari sekarang, 1 abad peringatan hari kebangkitan Nasional, anak-anak dan pemuda 20 atau 30 tahun mendatang pastilah merdeka jiwanya, merdeka pikirannya untuk kemudian bangkit jiwa dan raga secara lebih berarti menuju "The Real" Indonesia Raya. Sebagaimana harapan WR Supratman telah torehkan dalam bait syair lagu kebangsaan.
Tak usahlah terlalu cepat berharap dengan mengandalkan mahasiswa saat ini, apalagi para pemimpin negeri yang semakin tua. Nyata-nyata kaum intelektual malah lebih mengedepankan demo tak bermutu untuk menunjukkan eksistensi. Berikan kesempatan lebih kepada generasi muda untuk menunjukkan kredibilitas. Sudah saatnya angkatan tua menjadi korektor dan pembimbing. Lebih fokus menjadi Kreator, Konseptor. Relakan kaum muda menjadi Eksekutor, lebih menunjukkan eksistensi diri dalam rel dan pengawasan angkatan tua.
Mengenang beberapa tahun silam DR Sutomo CS, setelah demo langsung mengumpulkan para rekan untuk membicarakan konsep diplomasi lebih lanjut akan ditempuh dengan penuh semangat nasionalisme. Mahasiswa sekarang ? sehabis demo dengan atribut pengikat kepala masih basah oleh keringat nongkrong dipinggir jalan parkir seenaknya, merokok dengan gagah sambil berhaha-hihi, lupa pada apa yang barusaja mereka demokan. Kepentingan rakyat miskin menjadi pembungkus manis mentalitas anarkis.
Endapkan masa lalu, konsentrasi pada masa kini. Godok dan siapkan mental (jiwa) anak-anak & pemuda untuk menuju 20 tahun mendatang benar-benar merdeka. Merdeka berkreatifitas, berkarya, berinovasi & berimprovisasi berbasis intelektualitas membangun negeri.
Bangkitlah para pemuda. Kobarkan kembali semangat berbangsa dan bernegara. Pemuda harapan bangsa. Ingatlah selalu pesan proklamator kita "kutitipkan bangsa dan negara kepadamu". Ditambahkan lagi oleh beliau betapa bangganya pada kaum muda "berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia".
Satu iklan pada media televisi sangat menarik perhatian. Dedy Mizwar. Resapi ucapan berikut saya coba kutip dari iklan non-komersiil 100 tahun kebangkitan bangsa :
"bangkit itu, susah.
Susah melihat orang yang susah, senang melihat orang yang senang.
Bangkit itu, takut.
Takut korupsi, takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu, mencuri.
Mencuri perhatian dunia dengan mengukir prestasi.
Bangkit itu, marah.
Marah martabat bangsa dilecehkan. Diinjak-injak.
Bangkit itu, malu.
Malu jadi benalu. Malu hanya minta melulu.
Bangkit itu, tidak ada.
Tidak ada kata menyerah. Tidak ada kata putus asa.
Bangkit itu, aku.
Untuk Indonesia"
Iklan menggugah kesadaran berbangsa, penuh spirit. Nuansa mistik beraroma kebangkitan rasa begitu kental dikemas apik dibawakan dengan tajam oleh sang aktor. Sudah saatnya konsep iklan komersial pertelevisian diubah. Bagaimanapun juga media televisi sangat mendominasi menjadi konsumsi wajib bagi sebagian besar masyarakat. Tantangan terbesar dihadapi saat ini adalah, pemerataan pendidikan. Terutama aplikasi atau hasil/target yang hendak diperoleh.
Rakyat miskin yang sering dikategorikan sebagai kaum marginal boeh jadi tidak mengecam pendidikan tinggi, tapi jelas. Mereka sangat mengenal acara TV. Bahkan nyaris lebih banyak nongkrong di depan TV bisa menghabiskan 4 – 5 jam rata-rata orang perhari.
Gunakan media iklan bukan hanya untuk target profit secara komersial, tetapi lebih dikolaborasikan dengan menebarkan semangat kebangsaan dan kepedulian. setiap hari bahkan setiap jam sekali seluruh saluran TV swasta diwajibkan menyiarkan iklan kebangkitan bangsa. Lambat laun secara perlahan pasti menyerusup relung hati masyarakat luas sehingga terpateri semangat kebersamaan berbangsa dan bernegara. Bagaimanapun juga, sesuatu yang dilakukan secara terus menerus hasilnya lebih bisa terarah daripada secara besar-besaran tetapi hanya setahun sekali.
Indosat misalnya, telah memulai dengan iklan versi terbaru "Indosat Cinta Indonesia". Sangat dibutuhkan iklan-iklan inspiratif sejenis untuk mendongkrak kembali semangat kebangkitan demi mencapai kejayaan Indonesia Raya.
Mengutip pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang yudoyono saat memperingati satu abad memperingati hari kebangkitan nasional di senayan "bersama ktia bisa membangun kemali Indonesia" bahkan pekik "Indonesia…. Bisa!, Indonesia… Bisa!, Indonesia … Bisa!". Begitu semangat dan gegap gempita Bapak Presiden menyemangati seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kebersamaan.
Mahasiswa jangan sampai terjebak sikap reaksionis dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tunjukkan keberadaan mahasiswa dengan karya yang mencerminkan intelektualitas sejati. Skripsi, tesis, maupun disertasi dibuat bukan hanya untuk memenuhi syarat kelulusan belaka. Sebarkan, agar dapat dimanfaatkan untuk membangun negeri. Aparat keamanan jangan lagi terpancing propaganda sebagian kecil kaum muda. Mereka hanya butuh bimbingan dan pengertian. Kembalilah berfungsi sebagai pengaman, bukan menambah kacau keadaan.
Bangkitlah kaum muda, inteleklah kaum mahasiswa. Pemuda adalah harapan bangsa.
Langganan:
Postingan (Atom)