Minggu, 24 Agustus 2008

kereta jawa

ps : Untuk yang gak ngerti bahasa “masa kecilku”, ada translate dalam bahasa Indonesia dalam postingan di blog satunya : http://oyotgatelpalungsalwangga.blogspot.com

Yen wis titi wancine para manungsa
Tumekan pesthene entek kontrake
Jatah umur saka Gusti sing kuwasa

Wis patrape sing arane manungsa
Asipat apik utawi ala
Ling paneling luwih utama
Kejaba ngumbar nepsu angkara murka
Srakah ngudi seneng sak wetara
Lali mring kabegjan sing luwih temata

Rungakna kandaku,

Tanpa guna emas picis raja brana
Sandangan mlipis, ageman sarwo edi busana
Ditinggal kabeh, kejaba selembar gombal putih
Among polahmu sing ndadekna adhem kaya warih

Lakumu kairing udan tangis
Tumpakaanmu kereta jawa
Rodane saka manungsa
Kang arane keranda
Tumuju lemah sing wis tuwa

Ora ana kasur, bantal, guling utawa kemul
Ora ana lawang, cendila utawa bolongan semilir

Sanajyan ngalor, ngidul, ngulon utawa ngetan
Among siji sejatine dalan tumuju
Anggep wae geguritan

Ora ana calon dokter, pilot utawa insinyur
Apa maneh montor mabur
Anane mung siksa kubur

Ditinggalna bojo ayu
Nyenengke wong sing nemu

Ditinggalna banda akeh, sugih brewu
ora bakal dijak mlaku-mlaku
salah kaprah,
anak kadang lan para sedulur penthung-penthungan
cokot-cokotan rebutan warisan

elingana, urip wong sak drema idep
mancik mripat, manis.
Begitu rontok, tiada dilirik

Jumat, 22 Agustus 2008

babi ngesot

Banyak yang menganggap kekurangan phisik adalah bencana. Ada juga yang menganggap sebagai kelemahan diri. Lebih ekstrim lagi, menjadikannya kebo ijo (kambing hitam sudah punah) untuk membesarkan hati karena tidak kunjung mengukir prestasi. Berkarya, apalagi.

Lain halnya dengan manusia jenis yang satu ini, Raditya Dika. Posturnya pendek ‘kuntet’ justeru menimbulkan daya tarik tersendiri. Meskipun, tidak Cuma sekali dua menjadikannya gagal dalam membina cinta. Disisi lain, kelakuan tengil dan penderitaan yang ditulis dengan gaya ceria, menjadikannya buku humor luar biasa laris.

Satu lagi, karakter usil (kreatif) dibuktikan lewat buku “babi ngesot – datang tak diundang, pulang tak berkutang” telah menembus cetakan keempat bulan juni lalu. Bahkan, dalam satu bulan ‘mei’ telah mengalami dua kali cetak!

“dia lalu menarik baju gue,…., panik habis. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Sayang, epilepsy gue gak bisa dikeluarkan kapanpun gue mau” gaya penulisan yang ‘radit banget’ menghiasi seluruh isi buku ini.
Simak pula cara ia menyapa pembaca “kamu yang disana, selamatkanlah aku, wahai… si buta dari gua hantu”. Asal! (temukan dihalaman 13). Memang, komunikatif sih.

Ada juga pelajaran moral disodorkan (halaman 16), “jika kamu dikerjain senior, kamu tidak perlu lari lebih cepat dari dia. Hanya, lebih cepat dari teman kamu”. Ini, diceritakan Radit saat ospec masa SMA. Buntutnya, dari tiga makhluk unik, satu diantaranya menjadi korban karena ditinggal kabur. Bahaya memang, tradisi cari selamat dengan mengorbankan teman tak luput disodorkan dalam buku ini. Bukan merupakan kekurangan sih, hanya saja rawan jika nantinya menjadi trend pembacanya.

Mengenai kelebihan, urat ketawa bakal terbetot habis saat membaca. Fresh seketika. Tagihan telpon, rekening listrik, cicilan kartu kredit, lupa begitu pegang buku ini.

Tak jarang, dalam angkutan umum seorang pembaca tiba-tiba tertawa ngakak tanpa tahu sebabnya. Penumpang lain pun kaget, ada beberapa yang menempelkan jari telunjuk miring di jidat. Sinting!

Apa yang dikatakan Radit saat menang main Nintendo dengan adik kembarnya? “ayo, cepat hara kiri pakai pensil, biar terhormat!”. Langsung anak kelas tiga SD itu berdiri tegak, ambil posisi baris berbaris dan “hadap kiri grak!”. Saat sampai halaman inilah seorang pembaca kontan menangkupkan buku menutupi wajah. Bahu berguncang, menahan geli. Agaknya malu ketahuan sesama penunggu kereta, ketawa sendirian.

Setengah mati, nahan ketawa baca “babi ngesot”, buku keempat Radit setelah kambing jantan, cinta brontosaurus dan radikus makankakus. Dari mulai gigit bibir (tak sampai berdarah loh), gemeletuk gigi, tahan nafas, sampai pura-pura bersiul. Gagal total! Jangan heran kalau airmata mendadak tumpah –saking geli-, atau juga perut jengah tertawa dari mulai lembar pertama sampai sampul belakang.

Untuk yang lagi dikejar-kejar debt-collector, luangkan sejenak baca buku ini. Bagi yang nunggak cicilan rumah, apalagi. Wajib. Lupakan dengan mengumbar urat ketawa segedhe-gedhenya. Tapi, kalau sampai ada yang sakit perut –bengkeh- tanggung sendiri!

Oh iya, komiknya ada juga beberapa lembar. Disisipi dalam beberapa bab sesuai tema. Lihat gambarnya saja (hal 29 – saat Radit diinjek-injek adiknya) sudah ketawa, apalagi baca. “berat badan Ingga seberat sapi Australia hamil”, demikian tulisannya. Inilah kelebihan lain dari buku humor ini. Tunggu apalagi, segera usir stress anda. Jangan tunggu menggunung, bisa depresi nantinya. Cari babi ngesot di toko buku terdekat! Atau, nunggu ketawa harus bayar pajak?


Judul buku : babi ngesot – datang tak diundang pulang tak berkutang
Penulis : Raditya Dika
Tebal : 237 halaman ( sekali duduk, kelar baca)
Harga : Rp. 32.000,- (tergantung belinya dimana)
Penerbit : bukune, jakarta

Selasa, 19 Agustus 2008

kolaborasi

Dua tahun lewat empat bulan, kalender masehi.
Usiamu kini
Membelalakkan hati
Mengundang gundah, sekaligus geli

“Ayah, Rangga sudah bisa rukun islam. Tanyain deh” isteriku setengah berbisik.

Aku bangkit, berlagak seorang guru.
“Rukun islam ada…!” kataku, kemudian setelah itu suara cedal-nya menyahut. Berseling dengan interupsi dariku.

“Ima” (lima)

“Satu” jari telunjukku beraksi.

“adat” (syahadat)

“dua”

“towat” (sholat)

“tiga”

“atat” (zakat)

“empat”

“uata” (puasa)

“lima”

“aek aji a-yang empu! Anda ebaatt…!” (naik haji bagi yang mampu) teriakan setelah kata ini yang membuat aku terbelalak geli –Rangga hebat..!. sungguh, ungkapan rasa percaya diri akan kemampuan “menghafal” ilmu baru”

si kecil itu langsung bangkit, dan menunjuk gambar tempel di tembok. Jejeran huruf hijaiyah dari alif sampai yak, juga anka satu sampai sepuluh dalam huruf arab.

“ayang, ayah uduk. Ni, apa?” (sekarang, ayah duduk. Ini apa?)

“bak”

“ini”

“tak”

“mmm, o wang ini?” (kalau yang ini?)

“yak”

“inteng….” (pinter…)

Aku tersenyum geli memerankan drama sebabak itu. Sore itu begitu indah, hawa sejuk meresap. Terimakasih isteriku, engkau telah mendidik buah hati kita dengan baik. Tak kan pernah kulupakan moment ini. sepulang kantor hari-hari berikutnya, aku akan rajin menanyakan rukun iman, lafadz syahadat, hafalan fatihah, dan...dan... Ah, ternyata ku begitu banyak berharap. salahkah?

Rangga, telah bisa mendikte ayahnya. Dan, setelah apa yang ia tunjuk semuanya terjawab dengan benar olehku, tak lupa si kecil itu memberikan apresiasi kepada ayahnya dengan kata “pinter….”.

Ingatan akan sebuah moment keindahan, terkadang tertuang dalam tulisan tak seindah apa yang kurasakan. Karena aku bukan punjangga, tentu saja. Biarkan, hanya aku yang meresapi makna dan bahagia dibalik coretan kali ini. Bersama bisunya segenggam harapan yang tak seorangpun tahu.

Selasa, 12 Agustus 2008

ndleming wayah panjer-rina

Cangkem tanpa kemucap
Mbako tak sebul
Pega gumulung ngebaki tutuk
Sinawang mega klamat
Nutupi langit semu semburat
Wayah sore
Ngawe-awe

Oalah mbakyu,
Wewayangmu
Kok le nglelidu
Manjing ana bathuk tanpa gumuyu

Kaya diyan senthir
Mobat-mabit
Kedamu mring sumilir

Kangenku ra nguwati
Nanging, piye maneh
Dudu rupa,
Dudu bandha,
Ujarmu marang aku
Mung cukup emas raja brana,
penjalukmu
Blae…

Wuyung,
Pancen mandraguna.

Ya wis,
Aku tak nglaras “lingsir wengi”ne Didi Kempot
Sinambi leyeh-leyeh, ndleming sak karepku dhewe.
Ana ing wayah panjer rina ngene.

Senin, 14 Juli 2008

jancux

pergi kau,
enyah
jangan bawa bahagiaku.

ini gembiraku,
kenapa selalu ada padamu

ini nestapaku,
kenapa bukan ini yang kau ambil

goblok
bahagiaku, selalu kau bawa?

maling

kamu maling
dia seperti kamu
mereka seperti dia
aku seperti mereka

aku maling?

aku merasa, bangun tidur terus bekerja
akhir bulan dapat gaji.
dari gaji, aku beli beras. makan.
maling?
apa yang aku curi?

oh, kini aku tahu.
bukan apa dan siapa yang aku curi
diriku sendirilah yang selalu kehilangan.

kehilangan jati diri sebagai seorang "abdi".

Senin, 07 Juli 2008

wajah dalam baskom

hidung besar
kuping lebar
mata jereng setengah lingkar

hidungku kenyang menghirup kenistaan
kupingku penuh suara kedukaan
mataku nanar setiap saat oleh penderitaan

apalagi yang harus ku serap?